Kami adalah

Selasa, 19 Juli 2011

SISTEM KETENTARAAN MATARAM ISLAM TAHUN 1584 – 1755

A. Latar Belakang Sistem Ketentaraan Mataram Islam



Ada empat aspek utama yang menjadi latar belakang dalam pembentukan ketentaraan Mataram . Empat aspek utama itu adalah sifat magis religius raja, latar belakang sosial masyarakat, latar belakang cita-cita penguasa dan latar belakang persaingan hegemoni dengan negara lain.



Dalam aspek magis religius, raja berhasil menjadi tokoh sen dan adanyatral yang harus dihormati dan dipatuhi oleh rakyat karena diyakini akan medatangkan kesejahteraan lahiriah maupun batiniah bagi rakyat. Sementara itu dalam aspek sosial masyarakat raja berhasil memanfaatkan kondisi sosial masyarakat pedalaman seperti Mataram yang serba tertutup, patuh dan penuh gotong-royong untuk dididik menjadi tentara. Dua macam kepatuhan rakyat ini jelas akan memudahkan raja dalam pembentukan tentara, meskipun bukan berarti selalu dalam bentuk-bentuk hal-hal yang langsung dapat dilihat atau berujud material dalam tubuh ketentaraan, karena daya dorong ini pada hakekatnya bersifat psikis dalam pembentukan ketentaraan.

Dua hal lagi yang ikut mendorong raja dalam pembentukan tentara yang kuat, yaitu cita-cita yang tinggi dari raja itu sendiri dan adanya persaingan hegemoni dari penguasa-penguasa lainnya. Untuk mencapai cita-citanya dalam menguasai seluruh pulau Jawa atau daerah-daerah lain di luar pulau Jawa, Sultan Agung harus mempersiapkan pasukan yang besar dan kuat. Demikian juga akibat persaingan hegemoni dengan kerajaan Banten, VOC atau Surabaya akan mendorong raja-raja Mataram untuk meningkatkan kekuatan pasukannya yang sebagian besar diperolehnya melalui milisi rakyat.



B. Sistem Ketentaraan Mataram



a. Komposisi Tentara


Jumlah prajurit profesional kerajaan Mataram Islam berdasarkan sumber-sumber yang ada diketahui jumlahnya tidak banyak. Mereka mengabdi pada raja atau tokoh-tokoh pemerintahan lainnya yang tingkat kekuasaannya lebih kecil dari raja. Sebagai contoh ketika Panembahan Senapati menyerang Madiun ia sebenarnya hanya membawa 100 orang prajurit profesional yang merupakan prajurit inti pengawal raja, selebihnya adalah pasukan yang dibentuk dari milisi (HJ de Graff, Awal Kebangkitan Mataram, Pustaka Utama Grafitipers, Jakarta, 1990, p. 107).

Jumlah prajurit profesional yang sangat sedikit ini, bukan merupakan tindakan Senapati meremehkan kekuatan madiun, tetapi memang itulah kekuatan prajurit profesional Mataram saat itu. Contoh lain yang mungkin agak besar yaitu ketika Susuhunan Mangkurat IV pada tahun 1719 berusaha untuk mengawasi areal pertanian ketika musim paceklik tiba. Saat itu Susuhunan hanya berhasil merekrut prajurit profesional sebanyak 500 orang, selebihnya sebanyak 2500 orang merupakan pembawa senjata saja ( B Schirieke, Indonesian Sociological Studies, Ruler and Realm in Java, Part Two, The Hague, W. Van Hoeve.1957, p. 129)

Dalam pengangkatan prajurit profesional ini melalui dua jalur, pertama melalui cara magang dan kedua penerimaan test keprajuritan. Cara pertama biasanya dikenakan bagi kalangan bangsawan tinggi atau orang-orang dekat raja. Apabila melalui cara test akan menghasilkan prajurit profesional elite yang akan menduduki unsur-unsur pimpinan, maka cara kedua akan menghasilkan golongan prajurit profesional tingkat rendah.(HJ de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung, Graffitipers, Jakarta, 1990, p. 127).

Berdasarkan tugasnya sehari-hari, prajurit profesional dibagi dalam dua penugasan : prajurit pengawal pribadi raja dan prajurit penjaga keamanan kota. Prajurit pengawal raja semula diangkat dari prajurit penjaga keamanan kota yang karena jasa-jasanya kemudian diangkat menjadi pengawal raja. Prajurit penjaga kota terbagi dalam beberapa kelompok seperti korps Tamtama, Wira Sudabraja dan Keparak. Korps Keparak bertugas menjaga lingkungan istana, korps Tamtama dan Wirabraja bertugas di luar istana. Disamping itu masih dikenal satu korps lain yaitu prajurit Pemajegan yang bertugas menarik pajak dari rakyat (HJ de Graaf, Puncak Kekuasaan ..., p.143). Semua korps prajurit tersebut diatas dikoordinir oleh Wedono Keparak yang bertanggung jawab kepada Patih Lebet dan selanjutnya Patih Lebet bertanggung jawab kepada raja(Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III, Balai Pustaka, Jakarta, p.3). Sudah pasti para prajurit profesional ini mendapat gaji tetap dari raja atau para pembesar lain yang membawainya. Bahkan untuk para pimpinan selain mendapat gaji tetap juga seringkali mendapat kekuasaan untuk membawahi suatu daerah yang baru saja ditundukkan atau mendapat putri triman.

Sebagai prajurit profesional mereka diwajibkan selalu memiliki kemampuan keprajuritan yang prima. Oleh karena itu untuk menjaga kemampuan yang mereka miliki, diadakan latihan perang-perangan secara teratur pada hari Senin dan Sabtu. Senenan dan Seton adalah latihan perang dengan menggunakan tombak tumpul sambil menunggang kuda yang dilakukan di alun-alun depan istana. Sebagai contoh pada tahun 1670, Susuhunan memerintahkan bahwa setiap bangsawan wajib melaksanakan perang-perangan dengan seragam besi, mantel kain merah dan kopiah berwarna merah (B Schrieke, Ruler and Realm......P. 131)



Karena tugas yang dibebankan kepada prajurit profesional ini sangat besar, maka masalah ketrampilan keprajuritan yang dimiliki prajurit profesional merupakan hal yang utama. Suatu contoh yang menggambarkan betapa trampilnya prajurit Mataram adalah caranya berperang dengan naik kuda. Dari sumber Belanda digambarkan sambil mengendalikan kuda dengan lutut dan kakinya pasukan Mataram pandai memainkan senjata pedang dan tombak panjang di tangannya. Dengan cara ini banyak prajurit Belanda terdesak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bagian terpenting pasukan Mataram adalah prajurit Kavaleri, meskipun secara keseluruhan bagian terbanyak tetap pasukan infantrinya.



Bagian lain dari prajurit Mataram adalah pasukan artileri, tetapi bagian ini tidak banyak dan rata-rata kurang memiliki ketrampilan dalam menggunakan meriam. Sebagai contoh karena rendahnya ketrampilan artileri yang dimiliki prajurit Mataram maka Sultan Agung pada tahun 1624 mengundang pasukan Portugis untuk melatih prajuritnya dalam menggunakan meriam (HJ de Graaf, Puncak ....p.173)



b. Pasukan Milisi


Hal yang nampak sangat mencolok dalam sistem ketentaraan Mataram adalah pasukannya yang cukup banyak. Akan tetapi dari jumlah tersebut sebagian besar merupakan pasukan dari hasil milisi sedangkan pasukan dari rekruitmen secara profesional kecil jumlahnya. Sebagai contoh yaitu ketika Mataram menyerang Madiun pada tahun 1624, diutuslah Pangeran Silarong kembali ke Mataram utnuk minta bantuan. Segera Mataram mengangkat saudara dan putra-putra mereka yang tewas dan diberangkatkan dalam perang di Madiun. Jelas pegangkatan ini melalui cara milisi. Dan ternyata karena raja Mataram masih kekurangan pasukan, diadakan milisi lagi dengan menambah angkatan perangnya menjadi 80.000 prajurit, sehingga negerinya hampir tidak ada orang selain wanita dan anak-anak, sawah-sawah kelihatan kering karena kekurangan laki-laki untuk mengairi sawah (HJ de Graaf, Disintegrasi ......p. 54).

Melihat begitu seringnya milisi yang dilaksanakan raja, maka dapat dipastikan bahwa milisi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan rakyat. Dalam bentuknya sekarang hal tersebut dapat disamakan dengan kewajiban bela negara. Hanya bedanya jika wajib bela negara pada masa sekarang didasarkan pada kewajiban setiap warga negara dengan dijamin oleh undang-undang, sedangkan kewajiban bela negara pada masa itu lebih didasarkan pada kekuatan mutlak raja yang bersifat magis religius. Raja merupakan orang yang dekat baik dengan dewa-dewa Hindhu maupun dewa-dewa lokal. Bahkan juga dianggap merupakan figur yang bisa menjembatani antara manusia dengan Tuhan dalam agama Islam. Oleh karena itu membela raja merupakan kewajiban utama bagi rakyat Mataram. Dalam masa perang semua warganegara yang sudah dewasa diharuskan menjadi tentara untuk mempertahankan negara. Yang disisakan dirumah hanyalah beberapa orang laki-laki yang bertugas menjaga masjid di tiap desa (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional III,.....p. 259).

c. Perlengkapan Perang.


Dalam sistem persenjataan Mataram, jenis senjata tradisional merupakan perlengkapan perang yang utama. Meskipun dalam beberapa sumber baik sumber Belanda maupun sumber tradisonal diberitakan ada usaha yang dilakukan Mataram untuk menggunakan dua jenis persenjataan baik jenis tradisional maupun jenis senjata modern dalam setiap peperangan, namun dalam akhir peperangan yang menentukan, penggunaan senjata tradisional tetap merupakan faktor utama.



Dua alasan pokok yang menjadi sebab masih diutamakannya penggunaan jenis senjata tradisional oleh tentara Mataram adalah : kemampuan penggunaan senjata api prajurit Mataram yang masih rendah dan kekuatan magis yang diyakini terkandung dalam jenis-jenis senjata tradisional tersebut. Mengenai keterbatasan kemampuan pasukan Mataram dalam menggunakan senjata api bukan merupakan hal yang rahasia lagi. Bahkan meminta kepad orang Belanda untuk diajari dalam penggunaan senjata api. Dalam perkembangan berikutnya mereka memilki kemampuan dalam menggunakan senjata api, tetapi apabila dalam suatu pertempuran mereka terdesak maka cara lama kembali mereka gunakan yaitu dengan membuang senjata apinya dan lebih percaya pada penggunaan senjata tradisional seperti tombak, pedang dan sejenisnya (B Schrieke, Indonesian Social ......p. 124).

Dari berbagai jenis senjata tradisional Mataram yang digunakan, keris menempati kedudukan istimewa. Keris seringkali merupakan lambang martabat seseorang. Atas perintah mangkurat I, penguasa Jepara yang bernama Ngabehi Martanata diutus untuk melucuti senjata penguasa Semarang yaitu Ngabehi Wangsareja dengan merampas kerisnya dan seluruh senjata keluarganya serta larangan keluar kota. Kesalahan penguasa ini karena pertanggung jawabannya yang buruk menganai uang kerajaan sebesar 250.000 ringgit yang diperoleh dari pungutan pajak pelabuhan. Dengan cara dilucuti kerisnya tersebut Wangsareja kemudian kehilangan martabatnya (HJ de Graaf, Disintegrasi...... p. 148)

Selanjutnya menurut gambaran sumber Belanda yang berasal dari perjalanan Francois Pyard di Mataram, menyebutkan bahwa keris disamping sebagai alat tempur juga berperan sebagai lambang status seseorang. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam birokrasi pemerintahan maupun ketentaraan, maka semakin penting pula pemilikannya terhadap keris-keris pusaka. Digambarkan pula oleh sumber tersebut bahwa keris merupakan senjata yang mata pisaunya digelombangkan, sarungnya terbuat dari kayu yang dihiasi dengan emas dan batu berharga serta memakainya pada sisi badan. Bagi yang tidak memakai dianggap merupakan hal yang aib (Shrieke, Indonesian Social.......p. 122).



Selain keris yang mempunyai nilai nilai khusus maka jenis senjata lainnya adalah tombak, perisai, pedang, panah, bende, baju besi sampai panji-panji perang yang dianggap bertuah. Senjata tombak ada dua macam, tombak panjang dan tombak pendek. Tombak panjang digunakan dalam perang berkuda. Sedang tombak pendek dipakai oleh prajurit infanteri. Perisai dipakai sebagai alat pelindung yang terbuat dari kayu atau kulit kerbau. Mereka juga memakai pelindung yang dibuat dari cincin-cincin besi yang disambung-sambung. Baju perisai ini dipakai untuk melindungi badan dari serangan-serangan senjata yang kuat dan tajam (B Schrieke, Indonesian Social ......p 122).



Jenis senjata tradisional lain yang kekuatannya terletak pada unsur magisnya dibandingkan kekuatan riilnya adalh bende, panji-panji perang dan baju kotang yitu sejenis yang dimiliki Gatutkaca dalam ceritera pewayangan. Penggunaan bende dan panji-panji perang ini terbukti telah mampu menggerakkan semangat tentara Mataram dalam setiap peperangan. panji-panji perang ini juga merupakan lambang kesaktian orang-orang penting. Pada panji-panji itu sering terdapat gambar yang melambangkan kesaktian.



d. Persediaan Makanan


Faktor penentu kemenangan dalam setiap ofensif militer mencakup beberapa hal. Termasuk diantaranya adalah masalah logistik. Keadaan logistik yang buruk akan membawa akibat yang fatal terhadap kondisi tentara. Keadaan ini didahului dengan munculnya bahaya kelaparan yang kemudian disusul berjangkitnya bibit penyakit dan melemahnya semangat pasukan. Sebaliknya apabila keadaan logistik baik, maka kondisi pasukannya tetap dalam keadaan prima.

Sepanjang sejarah militer Mataram, secara umum kondisi logistik tentara dalam keadaan yang rendah. Keadaan logistik yang buruk ini tentu berkaitan dengan masalah-masalah transportasi yang ada. Transportasi yang sederhana dan jarak tempuh ofensif yang jauh menyebabkan kemampuan angkut logistik sangat sedikit. Masalah ini bertambah dengan keadaan jalan yang sulit dilalui. Akibatnya tentara juga harus bisa hidup dengan apa yang ditemukan selama perjalanan. Perbekalan beras harus dihemat sebaik-baiknya. Bila mungkin beras seringkali disuplai melalui sungai atau laut (HJ De Graaf, Disintegrasi ........p. 151-152).



Dalam suatu penyerangan yang dilakukan secara besar-besaran, pengangkutan logistik ini juga dilakukan melalui pelayaran di sungai ataupun laut. Dalam serangannya ke Surabaya pada tahun 1620, angkatan laut Mataram dengan kekuatan 80 kapal melalui Jepara berlayar kearah timur dengan tugas mensuplai bahan makanan terhadap pasukan infanteri melalui Gresik. Kemudian dalam usaha penyerangan ke Batavia yang pertama tahun 1628, pada tanggal 13 April 1628 Kiai Rangga atas nama penguasa Tegal tiba dengan 14 kapal bermuatan beras. Kemudian tanggal 22 Agustus 1628 tiba di pelabuhan Batavia atas nama Tumenggung Bahureksa, panglima tertinggi armada Jawa, suatu eksader terdiri tidak kurang 50 kapal. Kalap-kapal tersebut memuat 150 ternak, 120 last beras (1 last = 30 liter), 10.600 ikat padi, 26.000 kelapa dan 5.900 ikat gula. Tiga hari kemudian 27 kapal dengan muatan ternak diharapkan datang lagi.Jumlah besar yang datang mendadak ini menimbulkan kekuatiran pihak Belanda, karena diduga kuat merupakan usaha mataram untuk mensuplai makanan bagi tentara Mataram yang ternyata datang lagi pada tanggal 26 Agustus 1628 dipimpin Bahureksa yang datang dari arah Kendal (HJ De Graaf, Puncak.....p. 152).



e. Alat Transportasi


Secara garis besar transportasi utama kerajaan Mataram dalam peperangan dapat dibagi menjadi dua bagian : pertama transportasi yang dilakukan melalui darat dan kedua transportasi melalui lautan. Transportasi darat yang paling populer yaitu penggunaan kuda. Binatang ini sangat mudah perawatannya dan juga mampu menempuh medan yang berat sekalipun. Oleh karena itu merupakan sarana utama dan biasanya digunakan oleh pasukan dalam penyerangan-penyerangan. Pasukan berkuda Mataram digambarkan oleh orang-orang Eropa merupakan pasukan yang berani dan trampil memainkan senjata sambil berkuda. Sarana transportasi darat lainnya adalah penggunaan gerobak, orang-orang tawanan dan budak sebagai pengangkut perbekalan serta gajah. Penggunaan gajah sebagai sarana transportasi dipandang kurang umum dalam sejarah perang Mataram, oleh karena itu hanya digunakan dalam peperangan-peperangan yang sangat istimewa seperti penyerbuan ke Batavia tahun 1629 yang membutuhkan semua kekauatan Mataram.



Karena kuda merupakan hewan yang sangat populer dalam sistem transportasi darat, maka merupakan kebanggaan tersendiri bagi pasukan yang memiliki kuda yang baik. Kuda yang baik dipilih berdasarkan kriteria tinggi badan, warna bulu dan tata tandur bulu. Raja Mataram dalam beberapa kesempatan penerimaan utusan orang-orang Eropa selalu mendapatkan hadiah kuda dari para pejabat Belanda dan hal ini menyenangkan hati raja.



Dalam pelaksanaan penyerangan, seringkali kuda-kuda ini dikirim dengan diangkut melalui laut sementara pasukan infanteri yang akan menggunakan dikirim lewat daratan. Hal ini pernah terjadi ketika mangkurat I berniat menyerang Banten. Waktu itu diberangkatkan armada terdiri 50 kapal layar dan setiap kapal diisi empat puluh sampai dengan enam puluh awak kapal. sebagian dari kapal digunakan untuk mengangkut 1000 ekor kuda yang akan digunakan oleh angkatan darat.



Pasukan pembawa beban juga merupakan sistem transportasi yang digunakan dalam penyerangan Mataram. Mereka merupakan orang-orang yang didapat dari daerah-daerah yang berhasil ditundukkan Mataram dan para budak. Ketika Surabaya dan Madura diserang pada tahun 1622 sampai tahun 1624, banyak dilakukan pemindahan penduduknya. Sebagian dimukimkan di Karawang dan Sumedang untuk membuka daerah-daerah itu dan sebagian lagi dipakai sebagai pekerja paksa di kraton serta pembawa beban dalam setiap peperangan.

Kedua adalah transportasi yang dilakukan melalui laut. Kapal yang digunakan Mataram adalah jenis kapal layar. Kapal-kapal ini biasanya dibuat di sepanjang pantai utara Jawa dan dalam setiap penyerangan dapat dimuati 20 sampai 40 orang. Dalam penyerangan ke Surabaya pada tahun 1620, gubernur Jepara berangkat dengan 80 kapal dengan tujuan menguasai Gresik. Dalam penyerangan ke Sukadana pada tahun 1621, gubernur Kendal berangkat dengan kapal yang berisi 700 prajurit.



Mengenai penggunaan kapal oleh pasukan Mataram secara pokok dapat dibagi menjadi dua. Pertama sebagai sarana transportasi pasukan, kedua digunakan untuk memblokade kedudukan musuh di laut. Fungsi pertama berlaku ketika Mataram menyerang Surabaya, Sukadana, Batavia serta Banten. dalam penyerangan ke Surabaya tahun 1620 digunakan 80 kapal untuk menambah kapal-kapal yang telah ada, dan puncaknya adalah penyerangan terhadap Batavia dalam tahun 1628 dan tahun 1629 yang menggunakan seluruh kekuatan armada Mataram.

Fungsi kedua armada adalah sebagai alat untuk memblokade musuh dari laut. Dengan cara seperti ini maka musuh akan kehilangan kekuatannya karena hilangnya daya dukung perbekalan yang didapatkan dari daerah lain. Penyerangan dengan cara memblokade melalui laut ini dilakukan terhadap daerah-daerah yang mempunyai hubungan melalui laut dengan daerah lain. Derah-daerah itu biasanya bertindak sebagai pelabuhan dagang yang mempunyai kekuatan ekonomi di laut. Serangan Mataran terhadap Surabaya yang pertama pada tahun 1620 telah mengalami kegagalan, karena kurang rapatnya blokade laut yang dilaksanakan Mataram, sehingga Surabaya masih tetap mendapat suplai makanan dari Sukadana, Banjarmasin, banten dan Makasar.



C. Taktik Perang



Dalam peperangan-peperangan yang dilakukan, Mataram menggunakan dua jenis taktik perang. Pertama adalah penerapan secara umum dan kedua penerapan taktik secara khusus. Penerapan taktik yang bersifat umum berlaku sama dalam setiap penyerangan dan berkaitan dengan kondisi alam, musim, arah angin dan kondisi sosial ekonomi rakyat. Penyerangan-penyerangan yang dilakukan Mataram disesuaikan dengan irama permusiman, kondisi alam serta keadaan sosial ekonomi rakyat. Penyerangan biasanya dilakukan pada musim kemarau yaitu antara bulan Juli sampai September dengan alasan pasukan di darat lebih mudah bergerak karena kondisi alam (jalan dan penyeberangan sungai) yang lebih baik, keadaan laut yang lebih tenang karena jarangnya badai yang terjadi sehingga pelayaran armada akan lebih lancar. Sedangkan ditinjau dari kondisi sosial ekonomi akan lebih terjamin, karena keadaan logistik yang mencukupi karena petani baru saja selesai memanen padinya.

3 komentar:

  1. MANSTAB...MEMANG TENTARA MATARAM...

    BalasHapus
  2. Bagus artikelnya, saya ingin tau lebih lanjut tentang usaha kerajaan untuk menggunakan senjata api sejauh mana?

    BalasHapus
  3. Batavia awal direncanakan sesuai dengan kebiasaan Belanda, dengan jalan-jalan lurus dan parit-parit. Pengembangan kota ini pun tidak surut walaupun pada tahun 1628 dan 1629 kota Batavia dikurung tentara Mataram.

    BalasHapus

Kami menunggu partisipasi pemikiran anda.. silakan