Kami adalah

Selasa, 19 Juli 2011

PENGARUH HINDU-BUDHA di Sumatera dan Jawa

I. Pengaruh Sistem Kerohanian Hindu-Budha di Sumatera

Pengaruh India di wilayah ini memang terjadi hingga paruh abad 8. Tetapi sulit memastikan apakah ini berjalan lantaran ekspansi, perjalanan dagang atau usaha pelarian politik dari India ke Nusantara atau sebaliknya. Yang jelas pada masa-masa awal telah dikenal nama-nama India seperti Mulawarman (dari Kutai), Açwawarman dan Purnawarman (dari Tarumanagara, Jawa Barat) dan agama yang dianut adalah agama Brahma dan Hindu dengan tiga dewa utamanya: Brahma, Çiwa dan Wisnu.

Penggunaan nama-nama India boleh jadi merupakan bagian dari usaha untuk melegitimasi kekuasaan. Seperti diketahui wilayah-wilayah kerajaan pada waktu itu tidak mengenal sentrum kekuasaan tunggal dan masih terpecah dalam bagian-bagian kecil. India adalah salah satu locus yang memiliki sejarah panjang kebudayaan dan menghasilkan banyak peradaban besar, mulai dari filsafat, agama, tehnologi, ekonomi hingga politik. Sekiranya hal itulah yang mendorong pengambilan nama ataupun simbol-simbol lain yang ada di India. Transformasi atau sebutlah pengutipan tersebut tidak lain dari usaha untuk menyamakan diri dengan pusat kekuasaan atau kebudayaan yang berfungsi untuk mengikat daerah lain yang lebih kecil di dalam satu payung kekuasaan. Implikasi logis dari kedekatan dengan kebudayaan India itu adalah lahirnya kekuasaan pendeta atau heirocratic civilisation. Di sini peran pendeta menjadi tak tertolak karena ialah yang berkuasa penuh untuk menghubungkan raja dengan sumber kekuasaan yang mutlak. Akhirnya konsolidasi kekuasaan terlihat pula pada digunakannya aksara Dewanagari dan Pallawa.[1]

Kehadiran Hindu segera disusul oleh Gunawarman yang masuk ke Nusantara tahun 420 M untuk melakukan syiar Budha. Raja Kashmir tersebut datang bersama rombongan pendeta Budha dan sejak saat itu agama Budha menjadi agama kalangan atas.

Berita pada masa itu diperolah melalui catatan yang dibuat oleh Fa Hien, seorang rahib Budha yang dari Cina yang sedang singgah di Nusantara, khususnya Sumatera dan Jawa karena perahunya terkena badai. Fa Hien berada di Nusantara selama lima bulan, antara Desember 412 – Mei 413. Dalam laporannya, Fa Hien mengatakan bahwa kebanyakan penduduk menyembah berhala. Berita selanjutnya baru datang dari It Sing yang mengadakan perjalanan suci antara tahun 671-695. It Sing mengatakan bahwa ketika ia singgah di Sumatera, ia telah mendapati beribu orang menjadi penganut Budha. Tampaknya keberhasilan Gunawarman yang juga menyebarkan Budha di Tiongkok menyebabkan peziarah Tiongkok yang akan ke India masuk ke Sumatera. Iklim itu menyebabkan maraknya perkembangan agama Budha di Sumatera khususnya di Sriwijaya.

Hindu-Budha kemudian menjadi agama resmi di banyak kerajaan baik di Sumatera ataupun di Jawa. Sriwijaya bahkan pernah menjadi salah satu pusat pengajaran Budha terbesar. Diantara yang terkemuka itu terdapat seorang pemuka agama yang bernama Dharmapala. Pada abad ke-7, tokoh inilah yang menyebarkan dalil Mahayana di Sumatera sedangkan pada waktu itu Sumatera masih dikuasai oleh Budha Hinayana. Dharmapala sebelumnya adalah seorang guru yang mengajar di Nalanda, kota biara di dekat Sungai Gangga. Di Sumatera, Hindu-Budha bertahan lebih dari 600 tahun, kira-kira mulai abad 7-13 M.

II. Pengaruh Sistem Kerohanian Hindu-Budha di Jawa

Sumardjo mengatakan bahwa kekuasaan Hindu-Budha di Jawa bertahan kurang lebih 1000 tahun. Diduga Hindu-Budha masuk mulai abad ke 6-7 dan berkembang di sepanjang lereng Merapi-Merbabu (wilayah Tuk Mas). Kekuasaan Hindu-Budha baru mengalami kemunduran setelah Majapahit dijatuhkan kekuatan Pantai Utara Jawa. Sementara di Sunda, kekuasaan Hindu-Budha berdiri hingga lebih dari 1100 tahun dan baru hancur ketika Pajajaran di taklukan oleh kekuatan Banten (1579) yang telah menjadi Islam (Sumardjo, 2002: 28).[2]

Kalingga, Tarumanegara dan Taruma

Awalnya, berita tertulis tertua di Nusantara di temukan di tepi Sungai Mahakam, Kutai, Kalimantan Timur, menggunakan hurup Pallawa dan bahasa Sanskrit. Prasasti bertarikh 400 M itu menjelaskan bahwa saat itu telah terdapat seorang Pangeran yang termasyur. Pangeran tersebut bernama Kundungga dan telah memiliki anak yang bernama Açwawarman, sang pendiri wangsa. Prasasti itu didirikan oleh ‘pemuka dari yang lahir dua kali’ dan ditujukan untuk mengenang segala jasa baik Mulawarman, anak Açwawarman yang telah mempersembahkan banyak emas. Setelah itu baru ditemukan data arkeologis yang menunjukan adanya seorang Raja di barat Pulau Jawa, yakni Purnawarman. Kerajaannya disebut dengan Tarumanegara dan Raja tersebut memerintah selama 22 tahun. Diperkirakan prasasti yang ditemukan di Bogor dan di Tugu merujuk pada kitaran abad ke-4 atau ke-5.

Lepas itu diperkirakan lebih dari 200 tahun tidak didapati berita mengenai Nusantara. Namun demikian ada beberapa berita resmi Dinasti Liang (502-556) yang menyebut nama Kerajaan Lang-ga-su yang terletak di Pantai Selatan Jawa. Beberapa pihak berspekulasi bahwa yang dimaksud dengan lang-ga-su atau Langg-ga adalah Kalinga (tetapi data mengenai Kalinga baru di buat pada masa Dinasti Tang, 618-906 M). Kerajaan ini sangat kaya karena memiliki 28 negri yang mengakui kekuasaan rajanya. Kalinga / Kaling atau Holing sempat dipimpin oleh Ratu yang sangat ternama karena kebijaksanaannya, yakni Ratu Sima. Ratu ini sangat terkenal karena ketegukan dan kebijakannya. Pada jamannya, hukum nagari ditegakkan. Negara menjadi sangat teratur dan tidak ada satu penyamunpun berani berkeliaran disana. Ia pernah menghukum anaknya sendiri karena menyentuh emas yang milik Pangeran Arab yang ada diperbatasan negri (di tempat umum). Namun atas permintaan para mentri hukuman dikurangi menjadi memotong kaki dan kembali atas desakan para mentri akhirnya Ratu Sima hanya memenggal jempol kaki putranya. Melihat hal itu Pangeran Arab yang sebelumnya berniat menyerang Kalinga pun membatalkan niatnya. Ratu Sima ditasbihkan pada tahun 647 M.

Di Jawa Barat sendiri, selain Taruma terdapat beberapa kerajaan di bawah hukum Hindu-Budha. Sebut saja Galuh, Saunggaluh dan Pajajaran. Sayangnya, sedikit sekali peninggalan arkeologis maupun susastra yang cukup representatif untuk menggambarkan keadaan pada waktu itu sehingga hanya dapat diketahui bahwa pada masa itu agama Hindu-Budha pertama kali dipelajari melalui jalan literal. Dengan demikian dapat dikatakan jika kegiatan intelektual menempati posisi penting dalam perkembangan Kerajaan, sementara ketika agama Hindu-Budha berkembang dikalangan Istana, agama Rakyat—yang kerap disebut dengan Agama Sunda—tetap berkembang di luar pagar istana. Dikenalnya konsep Sang Hyang Tunggal pada masyarakat Sunda adalah bukti transformasi kosmologi dan teologi Hindu dengan Agama Sunda.

Selain itu, berbeda dengan wilayah lain, di Sunda hampir tidak diketemukan data-data yang menunjukkan hasrat penguasaan wilayah (baca: ekspansi) dari satu kerajaan ke kerajaan lain (sehingga sedikit prasasti diketemukan). Puncak kekuasaan baru terbangun beberapa waktu kemudian, itupun di bawah penguasaan kekuatan Islam yang masuk melalui ekspan Sunan Gunung Jati. Selepas itu tidak ada berita apapun yang menceritakan sisa-sisa kejayaan Hindu-Budha di Tanah Sunda.

Prijohutomo (1953: 97) menganggap kejatuhan Hindu-Budha sebenarnya terjadi setelah Kerajaan Pajajaran hancur akibat perang Bubat dengan Majapahit. Seperti diketahui kegagalan pernikahan Hayam Wuruk dengan Puteri Sunda berakhir dengan tewasnya seluruh anggota kerajaan. Puteri Sunda dan ibunya sendiripun kemudian melakukan bela pati yang waktu itu memang menjadi tradisi Hindu-Budha. Tak lama setelah itu, menurut Prijohutomo, Pasundan pun segera diislamkan (1522-1526).

Sanjaya dan Çailendra

Sementara itu di Jawa Tengah berdiri satu kerajaan yang kelak menjadi salah satu dinasti terbesar, Çailendra. Prasasti Tjangal – Kedu (Barat Daya Magelang), tahun 732 menyebut Sanjaya putra Sanna adalah Raja yang memerintah kerajaan dengan adil, walau dalam cerita Prahyangan, Sanjaya atau Rake Mataram dianggap sebagai raja yang banyak melakukan peperangan untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Sanjaya dipercaya pernah mencoba merampas Criwijaya, Khmer di Birma hingga Bali.

Dalam pemerintahannya itu, Sanjaya di bantu oleh seorang kakak perempuannya. Secara spekulatif beberapa pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kakak perempuan Sanjaya adalah Sima. Namun tidak terdapat bukti yang cukup mendukung pernyataan ini. Selain kemungkinan letak Medang ibhumi Mataram (walaupun tidak dapat dipastikan dengan jelas) secara geografis tidak begitu jauh dengan Kalinga. Berdasar prasasti Tjangal diketahui pembuatan Lingga (lambang Çiwa) di Selatan Muntilan atau tepatnya daerah sekitar Salam. Sementara daerah kekuasaan Çailendra sendiri terbentang luas sepanjang wilayah Klaten – Jateng, DIY dan Magelang kini dan wilayah Kalinga dalam berita Cina (dari masa Dinasti Tang) di sebut berada di Laut Selatan, sebelah timur Sumatera dan barat Bali. Namun demikian, menurut Simbolon (1995: 381) di Prasasti Tjangal disebutkan pula bahwa ada pulau yang begitu sempurna karena terkenal kaya akan padi-padian dan kaya akan tambang emas. Pulau itu disebut Yawa dan Sanjaya adalah Raja Yawa yang berasal dari Kunjarakunja. Menurut Krom, Kunjarakunja adalah daerah di sekeliling Gunung Agastyamalai dan dahulu dikenal sebagai Kunjara. Letak Gunung tersebut di sebelah ujung selatan India.

Sanjaya sendiri penganut agama Bhrama atau mungkin Hindu Çiwa namun penggantinya, Tejahpurnapana Panangkarana / Kariyana Panangkarana atau disebut Pancapana adalah penganut Budha Mahayana. Di bawah kekuasaan Pancapana dan anaknya inilah, Dharanindra (dari hasil pernikahan dengan seorang perempuan keturunan Fu Nan – Hindia Belakang) berbagai candi besar didirikan.

Menurut Prijohutomo (1953: 23), Rake Panangkaran atau Pancapana boleh jadi telah membagi dua wilayahnya. Yang satu diberikan kepada Dharanindra yang kemudian menghasilkan dinasti Çailendra sementara satu bagian lain dipegang oleh Rake Panunggalan. Kemungkinan Rake Panunggalan ini adalah anak dari selir. Setelah kekuasaan Rake Panunggalan tidak dapat diceritakan secara detail apa yang terjadi dengan Dinasti Sanjaya karena minimnya data yang ditinggalkan. Yang pasti secara berturut-turut, setelah Rake Panunggalan, tampuk kekuasaan dipegang oleh Warak, Gerung dan Pikatan. Mereka ini kemungkinan penganut Çiwa.

Satu versi lain mengenai Sanjaya-Çailendra wangsa, berasal dari cerita tutur. Dikabarkan bahwa sebenarnya Sanjayalah yang telah membagi kerajaan. Satu bagian diberikan kepada Pancapana dan bagian lainnya kepada Indrayana. Menurut cerita itu, Istana Indrayana lebih besar dan megah dibanding miliki Pancapana, namun entah mengapa nama Indrayana sendiri ‘tidak termuat’ dalam bagan Dinasti Mataram. Tidak diketahui dengan pasti apa atau bagaimana kelanjutan cerita dari Indrayana ini. Versi ini secara tidak langsung dibenarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam kisahArok Dedesnya. Dalam kisah tersebut diberitakan jika wangsa Çailendra yang kalah dari Sriwijaya masuk ke Jawa dibawah perlindungan Sunnaha (Sanna) dan mendapat daerah dari wilayah milik Mataram. Namun pada masa kepemimpinan Pancapana, wangsa Çailendra menjadi lebih berkuasa. Kedudukan kaum Çiwa dari wangsa Sanjaya tergeser sampai-sampai Pancapana harus membuat Candi Kalasan, sebagai perlambang berkuasanya Budha dari Tantrayana dan Yoga, di bawah petunjuk Indra. Kekuasaan kaum Çiwa sendiri baru mendapat tempat kembali setelah Rakai Pikatan menikahi Pramodawarddhani.

Tahun 778, Pancapana mendirikan Candi Kalasan. Menurut Prasasti Kalasan, yang berhuruf Pra-nagari, berbahasa Sanskerta dan berangka tahun 778 M, Kalasan merupakan candi pemujaan kepada Tara, isteri Avalokitesvara, seorang Dewi bagi penganut Mahayana. Setiap delapan tahun sekali para yogin dan mahasiddha dari berbagai wilayah berkumpul di candi ini untuk memuliakan Tara. Kemungkinan Dharanindra, yang awalnya dikenal sebagai penganut Budha, menjadi penganut Mahayana setelah anaknya, Samaratungga atau Samaragrawira menikah dengan putri mahkota Çriwijaya, Tara. Seperti diketahui Mahayana masuk ke Çriwijaya pada awal abad ke-7, barang pasti besan Dharanindra ini telah memeluk Mahayana pula. Pernikahan Smaratungga ini terjadi pada tahun 775 M.

Putra Dharanindra, Samartungga kemudian naik menduduki kursi kekuasaan hingga wafatnya, 812. Tahun 824 Samaratungga diketahui telah membuat candi Wenuwana / Ngawen di sebelah barat Muntilan. Anehnya, seperti halnya Kalasan, pemberi tanah untuk bangunan tersebut adalah seorang raja keluarga Sanjaya, yaitu Rakai Garung. Boleh jadi kedudukan wangsa Sanjaya pada masa ini memang masih berada di bawah angin terutama setelah naiknya Indra dari wangsa Çailendra. Borobudur di Bhumisambhara kemungkinan juga dibangun pada masa Samaratungga. Kekuasaan Samaratungga dilanjutkan oleh puterinya Pramodawarddhani yang menikah dengan Rake Pikatan, dari Dinasti Sanjaya.

Dengan demikian pernikahan Pramodawarddhani dan Pikatan ini adalah perkawinan politik karena mencoba menyatukan cabang keturunan dua wangsa. Seperti diketahui Agama Budha yang mekar bersama datangnya wangsa Çailendra di Jawa telah dianggap ‘memaprasi’ candi-candi Çiwa Sanjaya sebagai umpak kuil stupa mereka. Ini berarti Kamahayanikan (buku suci kaum Mahayana) membahayakan posisi Brahmandapura (buku suci kaum Çiwa). Keadaan ini tidak sepenuhnya dapat diterima para Brahmana Çiwa. Mereka dalam perjuangannya terus mencoba mengembalikan kedudukan kaum Çiwa, bahkan hingga jaman Airlangga dan Angrok kelak. Perkawinan Pramodawarddhani dan Pikatan boleh jadi adalah upaya awal untuk meredam konflik sosial yang dilakukan dengan jalan meleburkan Budha-Çiwa walaupun belum bersifat resmi. Salah satu peninggalan arkeologis yang cukup representatif untuk menggambarkan persenyawaan itu adalah Candi Plaosan. Candi ini dibangun oleh Pramodawarddhani, sementara Pikatan membangun kelompok candi Hindu, Loro Jonggrang. Yang menarik, kedua candi itu dibangun dalam satu wilayah (berjarak sangat dekat).

Sebelum dilanjutkan oleh Rake Kayuwangi, tampuk kekuasaan sempat di serang oleh Balaputradewa pada 856 M. Namun demikian serangan tersebut gagal. Balaputradewa melarikan diri ke Suwarnadwipa dan pada gilirannya justru menjadi salah satu raja yang membesarkan Çriwijaya. Seperti diketahui Balaputeradewa adalah adik dari Pramodawarddhani. Awalnya ia adalah calon pengganti tahkta wangsa Çailendra sebelum akhirnya dihalau Pikatan. Di bawah Rake Kayuwangi sendiri Budha-Çiwa menjadi agama resmi kerajaan. Selain itu ia pulalah yang mengembangkan pertanian sebagai ganti biaya pembangunan candi yang telah berlangsung selama beberapa waktu itu.

Kekuasaan sendiri segera berpindah. Berturut-turut setelah Rake Kayuwangi, Rake Humalang, Rake Watukara atau terkenal dengan sebutan Balitung, lalu menyusul Daksa, Tulodong dan Wawa.[3] Semenjak jaman Balitung sampai dengan Wawa sendiri dikatakan jika kekuasaan kerajaan telah meluas hingga ke Jawa Timur. Tidak dapat dipastikan apakah alasan yang mempersatukan wilayah kekuasaan Jawa Timur dan Jawa Tengah itu. Satu-satunya kemungkinan adalah perluasan wilayah akibat pernikahan dengan keluarga Raja daerah sekitar (mungkin pernikahan keluarga wangsa Mataram dengan keluarga Kerajaan Kanjuruhan, Jawa Timur telah terjadi). Dan untuk pertama kalinya, pada pemerintahan Balitung inilah kerjaan di sebut dengan nama ‘Mataram’.

Untuk menutup bagian ini, patut disebutkan bahwa kedua wangsa ini, walau mengandung benih seteru tetapi setidaknya berhasil menunjukkan ikatan yang saling mengisi. Hal ini minimal terlihat dari bagaimana misalkan Wangsa Sanjaya ‘menghibahkan’ tanah mereka kepada penguasa Çailendra ketika mereka berencana mendirikan candi atau lainnya. Seperti diketahui peninggalan candi dari kedua wangsa ini sangatlah banyak. Selain yang sudah disebut masih terdapat pula misalkan Candi Mendut, Pawon, Sewu dan Candi Sari, sementara Dieng sendiri didirikan oleh Sanjaya sekitar tahun 732 sebagai persembahan kepada Çiwa.

Kanjuruhan

Di masa yang hampir sama dengan berdirinya Sanjaya-Çailendra Wangsa, rupanya di ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (sekarang desa Kejuron). Rajanya bernama Dewasimha dan ia berputra Limwa (bernama Gajayana saat mengganti ayahnya). Mereka ini mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk dewa Agastya dan diresmikan tahun 760. Upacara peresmian sendiri dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Çiwa).[4] Cuplikan mengenai Kanjuruhan ini sendiri diperoleh dari Prasasti Dinoyo: berangka tahun 760, berhuruf Kawi, berbahasa Sanskerta, diketemukan di desa Dinoyo (barat laut Malang).

Kahuripan

Panggung sejarah tanpa diketahui pasti penyebabnya kemudian pindah ke Jawa Timur, tepatnya ke hulu Sungai Brantas. Adalah Sindok yang bergelar Çri Maharaja Çri Içana Wikramadharmottunggadewa yang berhasil mendirikan dinasti yang pada gilirannya mampu bertahan selama 3 abad lamanya.

Perpindahan panggung sejarah ini sebenarnya tidak serta merta. Walaupun sebab kepindahan sulit dipastikan kecuali spekulasi meletusnya Merapi di sekitar tahun 1006, Prijohutomo (1953: 35-37) mengatakan bahwa sebenarnya hampir selama 10 tahun Sindok menjadi pejabat tinggi pada masa pemerintahan Tulodong dan selanjutnya menjadi Rakryan Mapatih pada masa Wawa. Sindok naik tahta pada 929-947 M. Selama masa pemerintahannya ia menjalankan kekuasaan bersama dengan Parameçwari atau isterinya, yakni puteri dari Rakryan Bawang. Dengan silsilah demikian Sindok dalam statusnya adalah raja menantu.

Setelah wafat, Sindok digantikan oleh puterinya, Çri Icanatunggawijaya. Dari pernikahan Icanatunggawijaya dengan Lokapala, lahirlah Makutawangçawardana yang kelak menjadi ibu dari Mahendradatta. Dijelaskan oleh Wojowasito (1954: 27) bahwa setelah Makutawangçawardana berkuasa, keturunan Sindok tidak lagi memeluk Budha Mahayana melainkan Wihsnuisme.

Mahendradatta sendiri setelah menikah dengan seorang Pangeran Bali, Dharmodayana atau Udayana yang tidak memerintah di Jawa Timur tetapi di Bali. Menurut Wojowasita (1954: 27) Udayana berada dibawah penguasaan Makutawangçawardana dan Dharmawangça. Mahendradatta sendiri kemudian melahirkan Erlangga yang kemudian menjadi salah satu raja besar yang terkenal karena kebesaran dan kebijaksanaannya.

Seperti diketahui setelah di jodohkan dengan puteri Dharmawangça, Erlangga menetap di Jawa. Namun pada saat yang bersamaan keadaan politik tidak menguntungkan. Pada saat itu Dharmawangça tengah menyerang Çriwijaya, namun serangan tahun 1006 itu dapat digagalkan. Sebaliknya, tahun 1007 Çriwijaya datang menyerang. Seketika itu kekuatan Dharmawangça dapat dilumpuhkan sementara Dharmawangça sendiri gugur dalam pralaya itu. Beruntung Erlangga yang masih berumur sangat muda berhasil menyelematkan diri walau telah kehilangan mertua sekaligus isterinya. Ia lari keluar dari Istana, hidup sebagai pertapa di sembarang tempat sambil ditemani oleh pengawalnya yang setia Resi Narottama. Erlangga sendiri kemudian dapat membangun kekuatan terutama setelah sebuah kebetulan membantunya.

Dharmawangça sendiri di duga adalah pengganti Makuta dan memerintah antara 991-1007 M. Menurut Simbolon (1995: 15), Dharmawangça adalah raja pertama yang melakukan politik luar negeri. Ia melakukan perluasan kekuasaan tidak saja di Pulau Jawa melainkan hingga ke timur: Bali, utara: Kalimantan dan ke barat: Çriwijaya. Penyerangan ini sendiri di duga berangkat dari hasrat untuk menguasai jalur perdagangan dan bandar Çriwijaya. Seperti diketahui pada saat itu, Çriwijaya merupakan daerah transit terbesar selain merupakan pusat pengajaran Budha terbesar (kebetulan Budha di India sedang surut sementara di Cina sedang dimusuhi). Faktor eksternal lain yang di duga turut memicu perluasan kekuasaan Dharmawangça adalah kebijakan yang baru saja dikeluarkan oleh Dinasti Sung (960-1279). Revolusi birokrasi memberi kesempatan yang sama kepada setiap rakyat untuk dapat menduduki posisi pejabat negara. Hal ini mendorong pula aktivitas perdagangan yang sebelumnya bergerak stagnan. Akibatnya pasar Nusantara kembali ramai dikunjungi oleh para padri dan pedagang Cina.[5]

Mengenai ekspansi Dharmawangça ke Çriwijaya, dalam Arok Dedes, Pramoedya Ananta Toer berpendapat jika salah satu alasannya adalah guna memukul mundur akar kekuatan Mahayana yang telah menekan kekuatan Çiwa Jawa. Sayangnya hal ini dinodai oleh penerusnya setelah pralaya, Erlangga, karena raja muda ini lebih memilih Dewa Pertanian-pedalaman, Wishnu sebagai sesembahan.

Kebetulan yang menyelamatkan Erlangga mulai berlangsung ketika pada tahun 1023 dan 1030, Raja Cola Rayendraçoladewa I menyerang Çriwijaya. Tidak hanya itu Rayendraçoladewa juga menyerang Kerajaan Melayu (Jambi), Panai, Pantai Sumatera Timur, Kedah, Lamoeri (Aceh Besar) dan Nikobar. Dengan begitu kekuatan yang sebelumnya di dominasi kerajaan di bagian barat mulai melemah. Pada saat itulah Erlangga segera menggalang konsolidasi dan menundukkan raja-raja yang dulu pernah berada dalam vasal Dharmawangça namun karena kejatuhan Dharmawangça kemudian melepaskan diri. Kerja itu dilakukannya hingga tahun 1037. Setelah kemenangannya itu Erlangga segera memindahkan istana ke ibu kota baru dan menasbihkan kerajaannya yang bernama ‘Kahuripan’. Sementara itu di Bali, Anak Wungsu, adik bungsu Erlangga berkuasa dan pada gilirannya mengembangkan kebudayaan Jawa Kuno.

Erlangga sendiri tercatat sebagai seorang raja yang memperhatikan pengembangan kesenian dan kebudayaan, selain berhasil memajukan kesejahteraan rakyat melalui perbaikan ekonomi dan perbaikan fasilitas umum. Beberapa hal yang patut dicatat pada masa pemerintahannya adalah,pertama, secara revolusioner ia menghapuskan perbudakan (bahkan jauh sebelum Magna Chartadikumandangkan Raja John tahun 1215 di Inggris) melalui peniadaan kasta waisya (kasta terendah) dan hanya mengakui triwangsa. Pada klausul ini disebutkan jika urusan manusia dengan dewa menjadi bukan monopoli para pandita-brahmana saja dan dengan demikian seorang sudra dapat menjadi satria ataupun menjadi brahmana karena dharmanya. Kedua, untuk mewartakan ‘suara dewa’ Erlangga mempergelarkan pagelaran wayang. Dalam pagelaran ini bayang-bayang leluhur dalam wayang dapat dianggap sebagai bayangan dewa sendiri—hal mana ditolak mentah-mentah oleh kaum Çiwa karena selama ini mereka tidak menggunakan leluhur sebagai lantaran.

Sementara itu untuk mengikat dan memperkuat hubungan, terutama dengan Çriwijaya yang sebelumnya bersengketa dengan mertuanya, Erlangga kemudian menikahi puteri Çriwijaya setelah penyerangan kedua Raja Cola. Dan untuk mengenang pernikahan agung tersebut Mpu Kanwapun menggubah Arjunawiwaha dalam Jawa—yang merupakan saduran parwa ketiga Mahabharata,Aranyaparwa—sebagai persembahan. Menurut Pramoedya, inilah kali pertama tokoh manusia raja didewakan dalam buku suci. Gejala yang akan diikuti oleh banyak raja kemudian; Kresnayana karangan Mpu Triguna pada jaman Jayawarsa, Smaradhahan gubahan Mpu Dharmaja pada masa Kamecwara,Hariwangsa buatan Mpu Panuluh jaman Jayabaya, Gatotkacasraya ciptaan Mpu Tanakung masa Kertajaya, dsb.

Selain itu Erlangga juga memerintahkan para pujangganya untuk mengadaptasi Mahabaratha dari Sanskerta ke Jawa. Dengan cara ini kebudayaan Hindu-Jawa (aliran Wishnu) kembali hidup dikalangan rakyat kebanyakan dan mulai menggeser Hindu-Budha (Çiwa) yang sebelumnya berkembang melalui jalur literer. Tidak hanya itu, Erlangga juga diyakini mengadakan kodifikasi hukum untuk pertama kalinya yang disebut dengan Siwasasono.

Raja yang terkenal bijak ini sebenarnya menyisakan nasib tragis. Walaupun ia berhasil mensejahterakan rakyatnya, tidak serta merta ia dapat diterima sebagai bagian dalam wangsa Isana. Kaum Brahmana mengecam lengsernya kedudukan Ciwa pada masa ini yang digantikan oleh Wishnu. Adapun kedudukannya sebagai raja menantulah yang dijadikan alasan untuk menggantikan kedudukannya.

Adalah Samarawijaya, cucu langsung Dharmawangça, penerus wangsa Isana yang dianggap sah sebagai putera mahkotanya untuk menggantikan dirinya sekaligus menggeser kedudukan Sanggramawijaya puteri kandungnya sebagai penerus. Polemik Erlangga dengan janda dari Jirah, ketua kabikuan Budha pada gilirannya memaksa dirinya untuk membelah kerajaan. Awam mengetahui jika pembagian ini terjadi lantaran puteri mahkota Kahuripan, Sanggramawijaya menolak menjadi raja dan lebih memilih menjadi pertapa. Hingga saat ini tidak pernah diketahui dengan pasti apakah alasan penolakan dari Sanggramawijaya, walau rumor mengatakan bahwa alasan sebenarnya adalah karena sang puteri mahkota telah mengidap penyakit kedi (kelainan seksual; perempuan berlaku sebagai laki-laki ataupun sebaliknya). Erlangga sendiri sebenarnya setelah kematian isterinya, sang puteri Çriwijaya – tahun 1041, membangun Biara Pucangan lalu mengikuti jejak anaknya tersebut dengan tinggal di biara tersebut.

Jenggala dan Panjalu

25 tahun kebesaran Erlangga segera surut. Sebelum wafatya, 1049, Erlangga sempat membagi dua kerajaan menjadi Janggala di pesisir utara dan Panjalu yang terletak di bagian pedalaman atau selatan.[6] Barang pasti Janggala lebih maju karena pada saat itu kegiatan maritim juga tegah menggeliat namun entah mengapa Janggala yang secara geografis lebih besar justru mundur dan kekuasaannya kemudian jatuh berada di bawah Panjalu.

Simbolon (1995: 18-19) mengatakan sulit menafsirkan apa sebab-sebab sebenarnya dari kemunduran Janggala ini. Apakah kemajuan perdagangan menyebabkan rakyatnya apatis terhadap perkembangan kerajaan ataukah ada penguasa dari lain daerah yang menguasai perdagangan maritim (misalkan kekuatan dagang dari Dinasti Sung ataupun kekuatan Islam India). Lainnya adalah kemungkinan bahwa pada masa itu perdagangan masih dikuasai oleh pertanian. Namun perpecahan Janggala-Panjalu ini sempat berusaha disatukan kembali dengan pernikahan Kamecwara I, Raja Panjalu dengan Tjandra Kirana dari Jenggala. Ande-Ande Lumut, Topeng Panji dan Panji Klana.adalah bagian dari legenda kedua tokoh tersebut yang masih bertahan hingga hari ini.

Adapun legitimasi bagi kedudukan Panjalu dinyatakan dalam lakon Baratayudha yang dibuat oleh Mpu Sedah. Gubahan ini dibuat berdasar perintah dan perlindungan Prabu Jayabaya (memerintah 1130-1160) sebagai raja Kediri.[7] Mpu Sedah sendiri adalah lelaki yang menerima hukuman mati dari Jayabaya dengan berdiri. Ia tidak menyelesaikan karyanya lantaran Jayabaya mengetahui bahwa hati dan tubuh Parameçwarinya, Prabarini, hanyalah untuk dirinya. Kisah ini bermula ketika Jayabaya memberikan Prabarini sebagai gambaran Setyawati yang sangat sulit dilukiskan oleh Sedah pada proses pembuatan Salyaparwa. Baru kemudian diketahui jika Prabarini adalah stri dari Sedah yang dirampas Jayabaya pada masa-masa sebelumnya. Usaha Sedah untuk masuk ke Istana sendiri adalah bagian dari hasratnya untuk bertemu dengan isteri tercinta.

Singasari

Setelah Jayabaya, sejarah kembali gelap. Hanya dijelaskan bahwa pada satu masa Kertajaya telah memerintah Kediri. Kertajaya adalah turunan kelima dari Erlangga yang berkuasa di Kediri. Pada masa pemerintahannya Kertajaya memanfaatkan hukum triwangsa Erlangga namun membuang segala aturan mengenai pelarangan perbudakan hingga ‘Magna Charta Jawa’ tinggallah kisah.

Namun kekuasaan Kertajaya tak berlangsung lama. Kertajaya berhasil dijatuhkan Ken Angrok pada Perang Ganter yang didukungan para pandita, termasuk didalamnya Loh Gawe. Pada waktu itu para pandita membelot karena Kertajaya mengharuskan para pandita untuk menyembah raja yang mengaku diri sebagai titis Batara Guru. Rupanya pada waktu itu kebiasaan pandita menyembah raja tidak didapati, yang terjadi adalah sebaliknya. Boleh jadi masalah sebenarnya adalah terusan dari konflik kaum Çiwa dan Wishnu semasa Erlangga dahulu.[8]

Yang menarik adalah, pertentangan raja dan kaum pandita itu terjadi di waktu yang sama dengan masa penolakan kebijakan Gereja oleh para Raja Eropa. Kejadian itu berlangsung antara tahun 1212-1228 pada masa jabatan Paus Innocentius III dan Paus Gregorius IX. Perselisihan terjadi antara lain dengan Frederick II (anak raja Jerman, Henry VI dan ratu Sicilia, Constance) yang menolak terlibat dalam Perang Salib. Menurut Simbolon (1995: 390-391), untuk menentang kekuasan Gereja, konon Frederick II ini menulis “De Tribus Impostoribus” atau “Tiga Pelagak Besar” (yakni Musa, Jesus dan Muhammad). Sebagai akibatnya Frederick II dan beberapa raja lainnya dipecat dari keanggotaan Gereja. Pada waktu itu para raja akhirnya mengalah terhadap kekuasaan Gereja namun tak lama kemudian kekuasaan Gereja merapuh dan rajalah yang kemudian berkuasa.

Mengenai Angrok sendiri seperti diketahui ia adalah bekas penyamun dan berhasil menduduki tampuk kekuasaan, menjadi raja sekaligus mendirikan Singasari setelah membunuh Tunggu Ametung, pemimpin Tumampel, yang waktu itu menjadi akuwu yang tunduk bawah Kediri. Setelah membunuh Tunggul Ametung, Angrok menikahi Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung yang saat itu tengah hamil. Dengan laku demikian dapat dipastikan kekuasaan Singasaripun bergulir secara cepat dari satu tangan ke tangan lain. Sengketa antara keturunan Angrok-Umang, Angrok-Dedes, Dedes-Tunggul Ametung terus terjadi dan hal ini tidak lain adalah efek dari pembunuhan Angrok pada Ametung. Beberapa mitos menyebutkan jika seteru terus terjadi juga lantaran ‘sabda’ Mpu Gandring, seorang pembuat keris yang juga mati ditangan Angrok.[9]

Tewasnya Mpu Gandring di tangan Angrok sendiri sebenarnya dapat dimengerti. Pada masa itu banyak kekuatan yang berhasrat menurunkan Tunggul Ametung, salah satunya adalah kekuatan Mpu Gandring yang didukung oleh klik militer akuwu Tumampel. Maka setelah berhasil menekan Gandring untuk mempersiapkan persenjataan bagi laskarnya, Angrok segera menghabisi lawan politiknya itu. Selain kekuatan Angrok yang didukung para brahmana Ciwa, Mpu Gandring yang dibantu militer, masih ada satu kubu lain yang berusaha memainkan klik militer, yakni kekuatan milik ketua pandita (Wishnu) awuku Tumampel yang merupakan wakil Kediri. Pramoedya menyebut tokoh tersebut sebagai Belakangka.

Singasari mulai kembali stabil setelah Jaya Wisnuwardhana bersama saudaranya Mahesa Campa menguasai tampuk kepemimpinan. Dalam Nagarakartagama kedua penguasa ini diibaratkan Wishnu dan Indra karena kerukunannya sementara Pararaton menyebut mereka sebagai dua ular satu liang. Keadaan sedikit tenang, tampuk kekuasaan pun diteruskan oleh Kertanegara, anak Jaya Wisnuwardhana.

Berdirinya Majapahit

Sejarah Kertanegara dan penggantinya, Raden Wijaya-pendiri Majapahit, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang menimpa Dharmawangça maupun Erlangga.

Kertanegara pernah melakukan ekspedisi yang sangat terkenal, yakni ekspedisi militer disepanjang Jawa, Bali (1824) dan Sumatera (1275). Ekspedisi kedua yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu tidak seberhasil Ekspedisi Bali. Walau demikian Ekspedisi ini berhasil menanamkan persatuan antara Singasari dan Melayu. Hal ini terbukti dengan banyak piagam dan patung Budha yang ditinggalkan di sepanjang Sungai Langsat, Jambi. Kertanegara sendiri tampaknya cukup puas dengan bukti ‘kemenangan’ itu. Sebenarnya tujuan utama ekspedisi ini adalah membuat Kerajaan Melayu yang pada waktu itu berkedudukan di Jambi menjadi vasal Singasari. Namun demikian ekspedisi ini sendiri boleh dikatakan tidak memiliki motif ekonomis karena pada saat itu kerajaan bisa dipastikan tidak mencampuri urusan perniagaan.

Nama Kertanegara sendiri cukup banyak disebut khususnya di Nagarakartagama dan Pararaton. Hanya saja Pararaton cenderung menampilkan kekurangan Kertanegara. Disana Kertanegara ditampilkan sebagai pemabuk bodoh yang selalu menghabiskan waktu dengan makan dan minum sedangkan hal sebaliknya ditampilkan oleh Nagarakertagama. Sosok Kertanegara justru dianggap lebih ideal di banding pendahulu-pendahulunya. Adapun mengenai proses pemutlakan kekuasaan Kertanegara, C.C. Berg (dalam Simbolon, 1995: 392) berpendapat bahwasanya proses tersebut bersifat damai dan jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Hayam Wuruk ketika menyerang Sadeng, Keta dan Bali. Adapun faktor dominan yang mendorong ekspedisi Kertanegara itu di duga berasal dari hasrat unjuk gigi terutama untuk mengcounter kekuatan Kubhilai Khan yang baru saja menduduki Tiongkok.

Seperti diketahui, tahun 1206 Jenghis Khan mendirikan kerajaan yang terdiri dari bangsa Mongol dan Turkestan. Setelah konsolidasi internal, Jenghis Khan berusaha menaklukan Cina namun gagal. Usaha Jenghis diteruskan oleh Ogotai, namun keberhasilan baru dicapai pada masa kepemimpinan Kubhilai (cucu Jenghis). Tahun 1280, Kubhilai berhasil meruntuhkan Dinasti Sung dan mendirikan Dinasti Yuan di Cina. Selanjutnya perluasan diarahkan ke luar Cina yakni sepanjang Asia Timur dan Asia Selatan hingga akhirnya sampai pula ke Nusantara, khususnya Singasari dibawah kepemimpinan Kertanegara.

Keinginan Kubhilai untuk memperluas wilayah kekuasaan diwujudkan dengan mengirim duta, salah satunya ke Singasari. Kubhilai menuntut raja Singasari datang menghadap ke Peking yang sayangnya selalu ditolak oleh Kertanegara. Tahun 1289 Kubhilai kembali mengirim utusan. Merasa terus didesak Kertanegarapun memenggal hidung Meng Ch’i, sang utusan sebagai pernyataan ketidaksenangan atas tekanan Kubhlai. Menurut Wojowasito (1954: 41) pada jaman itu telah dibuat semacam hukum internasional terutama berkenaan dengan tugas duta, yakni larangan untuk membunuh duta yang sedang menjalankan kewajiban. Adapun hukum yang dapat diberikan kepada seorang duta hanyalah hukum dera, puluk (?) atau hukum yang hanya membuat cacat. Walau demikian penderaan terhadap satu utusan sebenarnya sama dengan melakukan penghinaan terdapap raja / kerajaan yang mengutusnya sehingga penderaan memang banyak dihindari kecuali dalam keadaan benar-benar terpaksa.

Sudah pasti jika Kubhlai bereaksi keras menanggapi hal tersebut. Tahun 1292 Kubhilai segera mengirim tiga panglima: Shih-pi, Ike Mese dan Kau Hsing bersama 20.000 ribu pasukan dan 1000 kapal untuk menghukum Kertanegara. Namun pada saat yang bersamaan Kertanegara telah tewas oleh pemberontakan Jayakatwang, seorang raja muda Kediri yang dibantu oleh Wiraraja dari Madura.

Jatuhnya Kertanegara pada waktu itu belum diketahui Khubilai Khan dan pasukannya. Pasukan Jayakatwang sendiri diperkirakan menyerang dari dua arah. Pasukan Singasari dipancing menuju utara dan dipertemukan dengan pasukan yang lebih lemah dan seketika itu pasukan selatan yang jauh lebih kuat masuk menyerang. Raden Wijaya menantu Kertanegara bersama dengan Nambi, anak Wiraraja kebetulan memimpin pasukan utara, berhasil menghalau pasukan utara. Namun demikian pasukan Raden Wijaya buyar ketika mengetahui bahwa pasukan Kertanegara di Selatan berhasil dihancurkan Jayakatwang. Raden Wijaya sendiri kemudian berhasil menyelamatkan diri dan dibantu oleh Kades Kudadu di tepi Sungai Brantas. Kades ini membantu Raden Wijaya berlayar menuju Madura untuk selanjutnya meminta bantuan Wiraraja. Kesepakatan dibuat. Wiraraja berbalik membantu Raden Wijaya dengan imbalan setengah wilayah kekuasaan. Rencanapun disusun. Raden Wijaya kembali ke Jawa dan mengaku tunduk pada Jayakatwang. Raden Wijaya diberi tanah dilokasi yang diminta, yakni perbatasan Kediri-Singasari. Ditanah itulah buah Maja yang pahit kelak menjadi ‘patok’ bagi kerajaan baru yang akan didirikan Raden Wijaya. Raden Wijaya sendiri di lokasi itu dibantu oleh pekerja-pekerja dari Madura yang telah disusupkan.

Seperti halnya Erlangga yang tertolong Raja Cola, kali ini Raden Wijayapun tertolong dengan kedatangan pasukan Mongol. Dengan kecerdasannya membaca situasi Raden Wijaya berhasil meyakinkan pasukan Mongol untuk mempercayai bahwa Jayakatwang adalah pengganti Kertanegara dan dengan begitu harus dihukum. Akhirnya Raden Wijaya dengan kekuatan Mongol berhasil mengalahkan Jayakatwang. Raja tersebut akhirnya menyerah dan kemudian menjadi tawanan perang. Setelah memastikan kemenangannya, Raden Wijaya memukul balik pasukan Mongol. 3000 pasukan Mongol tewas, sisanya melarikan diri dan sebagian takluk dan menjadi bagian dari dinasti baru yang didirikan oleh Raden Wijaya. Antara kedatangan pasukan Mongol dan keberhasilan Raden Wijaya hanya ada selisih waktu satu dua bulan saja. Dapat dilihat betapa cermat perhitungan yang dilakukan Raden Wijaya. Sementara itu untuk memperbaiki hubungan dengan Kubhilai Khan, Raden Wijaya mengirim utusan ke Peking. Hal itu terjadi tahun 1297. Lepas kepulangan utusan itu Raden Wijaya ditasbihkan menjadi raja Majapahit. Gelarnya adalah Kertarajasa Jayawardhana. Dan dua minggu sekembalinya utusan Mongol, Ekspedisi Pamalayu kembali sambil membawa beberapa puteri Melayu. Mereka itu adalah Dara Petak dan Dara Jingga. Pada gilirannya, Dara Jingga menikah dengan seorang bangsawan dan melahirkan Adityawarman. Tokoh ini kelak memilih kembali ke tanah leluhur ibunya dan menjadi Raja Melayu menggantikan Mauliawarmadewa. Adityawarman sendiri pada puncak pemerintahannya tercatat beberapakali sempat membantu Gadjah Mada, terutama pada penumpasan pemberontakan Sadeng. Raden Wijaya sendiri kemudian menikahi Dara Petak yang kemudian akan melahirkan penerusnya, Jayanagara.

Segera setelah meduduki tampuk kekuasaan tahun 1309, Jayanegara harus menghadapi pemberontakan. Yang pertama adalah pemberontakan Ranggalawe yang mengambil titik koordinasi di Tuban, pemberontakan Sora, Nambi—yang awalnya bersama Raden Wijaya turut mendirikan kerajaan—dan yang paling dasyat adalah pemberontakan Kuti.[10] Pemberontakan ini sendiri lahir karena ketidakpuasan para pejabat tinggi itu terhadap kebijakan yang sebelumnya pernah dibuat oleh Raden Wijaya. Selain itu ada seorang pejabat pemerintahan, Mahapati (pendahulu Gadjah Mada) yang kerap mengadu domba dengan cara melemparkan fitnah. Gadjah Mada sendiri baru mulai berperan ketika ia bersama pasukannya, Bhayangkara berusaha menumpas pemberontakan Kuti. Pada waktu itu bahkan Jayanagara harus keluar pergi – meninggalkan istana untuk menyelamatkan diri. Selama masa persembunyiannya, Gadjah Madalah yang mengatur semua siasat penyelamatan. Beberapa kebijakan yang ditetapkan Gadjah Mada sangat keras, misalkan saja ia sempat membunuh beberapa pegawai yang meminta cuti karena ia khawatir keselamatan raja menjadi terancam karenanya. Namun setelah pemberontakan Kuti ini nagara dalam keadaan aman. Tidak lagi ada ditemui pemberontakan kecuali satu insiden, yakni tragedi Tanca yang akhirnya juga menjadi catatan penutup riwayat hidup Jayanagara.

Dalam Paraton disebutkan bahwa Tanca melakukan aksi balas dendam kepada Jayanagara lantaran Jayanagara diduga berhasrat untuk merebut isteri Tanca. Kebetulan Tanca sendiri adalah seorang bangsawan dan tabib istana. Tanca menjalankan aksinya ketika ia harus mengoperasi daging tumbuh yang ada di tubuh Jayanagara. Tidak lama setelah kematian Jayanagara, Gadjah Mada sendirilah yang langsung mengirim Tanca ke penjara dan tak lama kemudian menghabisi hidup Tanca. Banyak spekulasi mengenai kasus ini, misalkan saja dugaan bahwa sebenarnya Gadjah Mada sendirilah yang melakukan intrik dan menggunakan Tanca sebagai badan ganti. Dalam tradisi Bali, isteri Gadjah Madalah yang sebenarnya digauli oleh Jayanagara.[11]

Jayanagara sendiri wafat tanpa meninggalkan seorang putera mahkota, oleh karena itu saudara perempuannya yang sulunglah, Ratu Kahuripan – Tribhuwanattunggadewi yang menggantikannya, walau sebenarnya mandat berada ditangan ibundanya, permaisuri yang paling dikasihi Raden Wijaya, Gayatri atau lebih dikenal dengan Rajapatmi.

Hampir selama dua puluh lamanya (1329-1350) pemerintahan ada di kedua tangan perempuan ini. Seluruh putusan penting sepenuhnya berada di tangan Rajapatni dan Tribhuwanattunggadewi menjalankannya atas nama. Mengenai Rajaptmi sendiri, seperti diketahui umum, selain menikahi Dara Petak, Raden Wijaya sekaligus menikahi keempat anak Kertarajasa. Tindakan ini diduga merupakan langkah pengamanan untuk menjaga kelangsungan dinastinya, karena bagaimanapun darah Kertarajasalah yang sesungguhnya mengikat Raden Wijaya untuk tampil sebagai raja. Dengan demikian kekuasaan memang ada pada keempat perempuan tersebut dan Raden Wijaya, dapatlah dikatakan hanya berfungsi sebagai penyatu dan pelaksana tugas istana. Salah satu isteri Raden Wijaya yang terkenal adalah Gayatri atau Rajapatni, nenek dari Hayam Wuruk. Raden Wijaya sendiri sebelum wafatnya, selain menobatkan Jayanagara yang waktu itu masih sangat belia (15 tahun) sebagai raja juga sempat menempatkan masing-masing puterinya, yakni Bhre Daha atau Radjadewi Maharajasa dan Tribhuwanattunggadewi untuk berkuasa di Daha, Kediri dan Jiwana-Kahuripan. Tidak ada pertentangan yang terjdi pada masa kepemimpinan keduanya. Bhre Daha kemudian menikah dengan Wijayarajasa – Raja Wengker sementara Tribhuwanattunggadewi menikah dengan kertawardhana. Anak mereka inilah, Hayam Wuruk, yang kelak akan menjadi penerus kerajaan.

Pada masa pemerintahan Tribhuwanattunggadewi, Gadjah Mada yang sebelumnya sempat menjadi Patih Kahuripan (1319-1321) dan Daha (1331) kemudian menjadi Patih-Mangkubumi dibawah perlindungan Arya Tadah, setelah sebelumnya berhasil memadamkan pemberontakan Sadeng. Segera setelah pengangkatan tersebut, Gadjah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal, Sumpah Palapa di hadapan sidang paseban dan justru menjadi bahan tertawaan.[12] Kata-kata Gadjah Mada itu tercatat dalam Pararaton,

Sira Gadjah Mada patih amungkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gadjah Mada: ‘Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik samana iksun amukti palapa.’”

“Gadjah Mada, Sang Maha Patih, berjanji tidak akan memakan buah palapa: ‘Agar supaya Nusantara dapat dikuasai, agar Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik (Singapura), dapat dikuasai, maka hamba harus lebih dulu makan buah palapa.” (Pararaton)

Setelah Rajapatni wafat (1350), Tribhuwanattunggadewi juga turut melepaskan jabatan dan memberikannya kepada puteranya, Hayam Wuruk.

Prabu Hayam Wuruk berkuasa mulai tahun 1350-1389. Pada masa pemerintahannya Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Amukti Palapa yang dianggap sebagai upaya pencapaian kekuasaan pun mendapatkan ruang dibawah penguasaan mutlak Hayam Wuruk. Baik Hayam Wuruk maupun Gadjah Mada berada dalam keterikatan untuk saling mendukung. Hal itu menurut Simbolon (1995: 397-398) nampak pada penataan perangkat dan pendukung kekuasaan negara macam birokrasi, angkatan bersenjata dan status masyarakat kalangan atas.

Arogansi dari hasrat penguasaan itu sendiri pada gilirannya memukul balik Hayam Wuruk. Tahun 1357 terjadi perang yang sangat terkenal dan terjadi di daerah Bubat; Perang Bubat dan karenanya membuat Hayam Wuruk gagal menikahi Puteri Pasundan yang dicintainya.

Ringkas cerita, Hayam Wuruk sedang mencari permaisuri untuk dinikahi. Kebetulan pamannya, raja Daha dan Kahuripan memberi lukisan Puteri Sunda. Hayam Wuruk demikian terpikat dan segera mengirim utusannya, Madhu. Utusan itu kembali dengan membawa surat balasan mengenai kesediaan keluarga Sunda tersebut. Tak lama kemudian bertolaklah seluruh anggota keluarga Kerjaan Sunda disertai iring-iringan besar. Tercatat 2000 kapal berikut kapal kecil mengiringin mereka. Setelah mendengar kedatangan keluarga Kerajaan Pajajaran di Bubat, Hayam Wuruk berkehendak menghampiri untuk melakukan penyambutan.

Namun Gadjah Mada mengatakan bahwa hal itu tidak layak dilakukan seorang raja besar kepada kerajan lain yang demikian. Gadjah Mada menyarankan agar Hayam Wuruk tinggal diam menunggu kedatangan utusan maupun Raja Pajajaran sendiri untuk datang menyembah. Padjajaran demi mendengar kabar terakhir tersebut begitu marah karena menganggap bahwa Hayam Wuruk telah ingkar dan karenanya mereka berniat kembali ke Pajajaran. Pada waktu itu dikirimlah Patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Anepakěn disertai tiga pejabat dan 300 serdadu. Mereka tiba di rumah Gadjah Mada dan hampir terjadi pertumpahan darah disana karena masing-masing pihak berkeras pada kemauannya. Raja Sunda sendiri kemudian mengatakan ia akan menghadapi perkara tersebut sebagai seorang ksatria. Ia tidak rela Pajajaran direndahkan dan dianggap sebagai bawahan Majapahit (Pajajaran bukanlah vasal Majapahit dan menjadi salah satu kerajaan yang tidak pernah tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Selain itu pada masa sebelumnya kedua kerajaan itu juga tidak pernah berusaha untuk saling menyerang satu sama lain). Perang tak terelakkan. Pasukan Sunda habis oleh prajurit Majapahit, begitu pula dengan Raja maupun Patih Anepakěn. Puteri Sunda, ibundanya dan semua isteri perwira Sunda kemudian pergi ke medan perang dan melakukan bela pati – bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.

Dalam Kidung Sunda dan satu versi lainnya Kidung Sundayana atau Perjalanan (orang) Sundadikisahkan menjadi betapa merananya Hayam Wuruk dan raja besar itupun mangkat. Tak lama setelah itu Gadjah Mada yang dipersalahkan dan diburu karena kasus tersebut segera melakukan yoga samadiuntuk moksha. Walaupun nama Puteri Sunda tidak pernah disebutkan, namun bayak orang beranggapan bahwa puteri tersebut adalah Dyah Pitaloka. Kisah ini sendiri menjadi mitos yang terus hidup hingga hari ini dan dianggap menjawab pertanyaan mengapa Orang Jawa tidak pernah (atau tidak dapat) hidup harmonis dengan Orang Sunda. Antipati itu dapat pula terlihat dari adanya anggapan di sebagian masyarakat bahwa tabu bagi seorang Jawa menikah dengan seorang Sunda. Perasaan yang sama rupanya juga berkembang di daerah Jawa Barat (Bandung kini). Di sana tidak didapati jalan raya yang menggunakan nama Hayam Wuruk maupun Gajah Mada, berbeda halnya dengan kota-kota besar lain di Indonesia.

Hayam Wuruk kemudian mangkat pada 1389. Setelah itu kerajaan mulai redup. Wikrawardhana, menantu Hayam Wuruk (yang menikah dengan Kusumawardhani) segera menggantikannya. Namun di wilayah lain Bhre Wirabhumi, anak Hayam Wuruk dari selir menguasai wilayah timur. Pertentangan segera terjadi. Perang Paregreg berlangsung selama 5 tahun (1401-1406). Bhre Wirabhumi dapat dikalahkan dan Wikrawardhana dapat bertahan hingga kematiannya, 1429.

Wikrawardhana sendiri pada waktu mengalahkan Bhre Wirabhumi sempat mendapat hukuman dari Raja Cina. Ia diwajibkan membayar R. 45000.000 sebagai ganti rugi, yang kemudian dibayar Wikrawardhana walau tidak hingga lunas (Wikrawardhana hanya membayar separuhnya). Hal ini terjadi karena sebelumnya Bhre Wirabhumi sebelumnya sempat mengadakan hubungan dengan kerajaan Cina. Sayangnya pada waktu itu wilayah seperti Kahuripan, Jenggala-Tumampel, Singosari-Lasem, Daha-Kediri mulai berdiri mandiri dan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Setelah kematian Wikrawardhana sejarah Majapahit mulai gelap. Beberapa raja yang sempat berkuasa diantaranya adalah: Suhita (1429-1447), Kertawijaya (1447-1451), Rajasawardhana (1451-1453), lalu kekuasaan kosong selama tiga tahun lamanya dan kemudian diteruskan oleh Purwawicesa (1456-1466) dan akhirnya Kertabhumi (1466-1478) sampai dengan digantikannya Majapahit oleh Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak Bintara.

Secara umum, untuk menutup bagian ini, rekapitulasi kebudayaan Jawa pada abad 15 dan 16 dapat ditilik pada karya H. J. de Graff (2004: 179-195).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kami menunggu partisipasi pemikiran anda.. silakan