Kami adalah

Selasa, 19 Juli 2011

Lagu ‘Banten, Negri Leloehoerkoe’ karya R. S. P. Winangoen (1929): Teks dan Konteks

Oleh: Mufti Ali, Ph.D.

Sementara masyarakat Banten tercekam dengan kontrol dan pengawasan Pemerintah Kolonial yang demikian ketat akibat Peristiwa Pemberontakan Banten 1926, warga Banten di perantauan terus menyuarakan ide-ide kemajuan yang kritis baik dengan kondisi Banten yang memprihatinkan secara ekonomi, sosial dan pendidikan, maupun dengan kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial. Mereka mendirikan Perhimpunan Boedi Banten dan Perkumpulan Tirtajasa antara tahun 1928-1930. Meskipun kedua perkumpulan tersebut dibentuk oleh orang Banten di tempat yang berbeda, namun keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu berpartisipasi memajukan ekonomi dan pendidikan orang Banten.

Karena tujuan ini maka dapat dipahami jika mereka selalu menjalin hubungan intens melalui pertemuan dan rapat-rapat dimana mereka saling mengundang, maupun melalui tulisan yang dikirim kepada koran Soerosowan dan Tirtajasa. Di samping itu, mereka juga kerap kali mengadakan acara diskusi bersama, baik di Jakarta, Bandung, maupun di Banten sendiri. Bahkan mereka juga secara intensif memiliki sejumlah contact person atau aktivis di Banten, yang berperan aktif dalam penyebarluasan ide-ide progresif melalui penerbitan berkala. Salah satu tapak jejak mereka adalah berdirinya sekolah pribumi HIS di Kaloran dan Ciruas, yang dibangun berdasarkan dana yang dikumpulkan dari warga Banten baik yang tinggal di Banten maupun di perantauan.

Perhimpoenan ‘Boedi Banten’

Seperti tersebut dalam statutanya, Perhimpoenan ‘Boedi Banten’ didirikan oleh warga Banten yang tinggal di Batavia pada tanggal 14 Oktober 1928. Dalam AD/ART-nya disebutkan bahwa organisasi ini bertujuan untuk meneguhkan persatuan dan persaudaraan dan menambah kemajuan untuk para anggotanya, terutama memberi bantuan untuk kematian dan meningkatkan taraf hidup para anggotanya. Untuk tujuan ini, organisasi ini giat menggalang dana dan berupaya mendirikan koperasi (Soerosowan, 1929: 23).

Seperti organisasi modern lainnya, perhimpunan Boedi Banten juga memiliki struktur pengurus yang terdiri dari seorang ketua, sekertaris, bendahara, penasehat dan 3 orang komisaris, yang semuanya berasal dari Banten yang bekerja dan tinggal di Batavia. Ketua perhimpunan ini adalah D. Koesoemaningrat, seorang penulis tetap di surat kabar Soerosowan.

Perhimpunan ‘Boedi Banten’ juga memiliki lagu organisasi yang menggambarkan idealisme para aktivis perhimpunan ini. Dari lirik dan nadanya, lagu ini dibuat secara sadar untuk membangkitkan gairah dan semangat membangun negeri Banten, meningkatkan taraf pendidikan dan penghidupan warganya. Lagu ini ditulis oleh seorang komponis asal Banten yang bernama R. S. P. Winangoen, salah seorang aktivis perhimpunan Boedi Banten. Lagu ini berjudul Banten, Negri Leloehoerkoe (Banten, Negeri Leluhurku).


Wahai negeri leluhur banten yang ku cinta
Tanah air tempat tumpah darah kita
Putramu yang senang dengan sederita
Semua sekata dan secita-cita
Ref.
Wahai Banten jantung hati
Dengan mu ku berdiri
Mari kita semua
Kerja untuk majunya

Wahai Banten mustika yang gilang gemilang
Kita sumpah setia tidak kepalang
Membela hormatmu terang dengan benderang
Pandumu siap seuntung semalang

Banten muda, ingatlah akan kewajibanmu
Wajib bersatu antara saudaramu
Sama-sama mengunjukan sikap yang tentu
Berdiri berbaris tegak laju maju

Ref.
Putra Banten, sesamaku
Sayangilah negerimu
Mari kita semua
Junjung tinggi namanya
Banten muda, putra putri yang setiawan
Bersatulah bernaung bawa seruan
Berserulah yang keras untuk persatuan
Persatuan memberi kemuliaan.

(sumber Soerosowan, 1930: 2).

Lagu yang dibuat oleh Winangoen ini dimuat dalam koran Soerosowan dan selalu dinyanyikan pada setiap acara-acara resmi perhimpunan ini. Meskipun tidak ada informasi eksplisit mengenai pengaruh ide-ide progresif yang disebarluaskan pengurus Boedi Banten melalui Koran tersebut, pendirian lembaga dengan semangat serupa di Bandung, Perkumpulan Tirtajasa dan di Ciruas, Penggajoeh Oetama, menjelaskan bahwa perhimpunan Boedi Banten ini memang inspiring.

Karena pengaruh dan inspirasi yang ditimbulkannya, maka tidak heran bila pemerintah kolonial Belanda selalu mengawasi gerak-gerak aktivis perhimpunan ini. Tidak sedikit surat kabar (pemerintah) memberi komentar dengan nada mencurigai mengenai perhimpunan ini (Soerosowan, 1929: 31).
Surat Kabar Soerosowan

Koran ini terbit tiap bulan (maanblad). Ukurannya seperti tabloid Koran tempo sekarang. Rubriknya bervariasi, namun yang dominan adalah rubrik berita peristiwa, opini, ceramah agama, dan seruan untuk memajukan ekonomi dan pendidikan warga Banten. Sejarah Banten juga termasuk tema yang selalu didiskusikan dalam surat kabar ini terutama dalam konteks pembangunan jati diri dan identitas kebantenan. Meskipun seringkali bercampur dengan ungkapan bahasa Jawa/Sunda Banten, bahasa Melayu adalah bahasa pengantar yang digunakan dalam redaksi surat kabar. Meskipun surat kabar ini bukan surat kabar resmi perhimpunan Boedi Banten, namun, para pengurus redaksi dan penulis artikel dalam surat kabar ini adalah anggota perhimpunan tersebut. Namun meskipun bukan pengurus, setidaknya ia adalah orang Banten yang berpengaruh, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat.

Surat kabar Soerosowan bukan surat kabar resmi dari perhimpunan Boedi Banten. Ia adalah Koran umum (algemeen maanblad). Namun demikian, Soerosowan identik dengan perhimpunan Boedi Banten. Di samping karena ‘hidup’nya surat kabar ini disokong oleh para anggota perhimpunan Boedi Banten yang menjadi pelanggan tetapnya, para penulisnya pun adalah sebagian pengurus Boedi Banten. Namun yang jelas adalah bahwa surat kabar ini adalah surat kabar warga Banten. Hal ini tersurat dalam sebuah rubrik di surat kabar tersebut:

‘Walaupoen Soerasowan itoe boekan organ dari ‘Boedi Banten’, sajogjanja ‘Boedi Banten’ haroeslah menjokong sekoeat koeatnja, baik dengan wang maoepoen dengan tenaga jang pertama jalah kaoem ‘Boedi Banten’ – semoea wadjib mendjadi lengganan dan kaoem ‘Boedi Banten’ semoea diminta haroes soeka kirim sokongan rentjana rentjana baik jang sosial maoepoen jang berbaoe politik, karena pendapetan kita, bilamana Soerasowan tidak dapat bantoean dari kaoem Banten, nistajalah hidoepnja tidak akan sehat! Terkadang maoek ke lobang koeboer! Kita harep djangan sampai demikian!’

Bagi dewan redaksi surat kabar ini, Soerosowan dapat dianggap sebagai obor yang memberi penerangan untuk kemajuan rakyat Banten. Dalam sebuah paragraf dalam tulisan di Koran tersebut, terbaca misalnya ungkapan sebagai berikut: ‘Djadi Soerasowan kita misalken laksana alat penerangan (obor) agar jang gelap mendjadi terang dan jang terang biarlah bisa mendjadi terang-benderang soepaja kemoedjian seloeroeh ra’jat Banten tergolong poela ke dalem kemadjoean dan kesadaran, kita harep beriboe riboe harep’ (Soerosowan, 1930: 70).

Perkumpulan Penggajoeh Oetama

Pendirian organisasi modern untuk memajukan pendidikan dan perekonomian masyarakat Banten antara tahun 1928-1931 tidak hanya terjadi di Jakarta dan Bandung, tetapi juga di Ciruas, Serang. Organisasi yang didirikan di kota kecil ini adalah dinamakan Penggajoeh Oetama, himpunan para ambtenar dan pedagang yang tinggal di Ciruas untuk meningkatkan pendidikan orang Banten.

Seperti organisasi modern lainnya, himpunan ini memiliki struktur pengurus yang terdiri dari seorang ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Para personil yang menduduki jabatan dalam struktur pengurus tersebut masing-masing R. Soerjadi, Tb. Perbatakoesoema, M. Warno, M. H. Totong, M. Saidjam dan M. Kartowardojo.

Profesi pengurus perhimpunan ini beragam. R. Soerjadi adalah seorang pengawas pengairan. Sementara Tb. Perbatakoesoema adalah seorang mantri pajak. M. Warno dan M. Saidjam bekerja sebagai guru Bantu (hulp onderwijzer). Sedangkan M. H. Totong dan M. Kartowardojo adalah masing-masing pedagang dan mantri air.

Pendirian Sekolah di Ciruas oleh Penggajoeh Oetama (1929)

Concern perkumpulan ini terhadap pendidikan dibuktikan dengan inisiatif untuk mendirikan sebuah sekolah setingkat H.I.S partikulir pada tanggal 1 Agustus 1929 di Ciruas. Murid-murid yang belajar di sekolah ini berasal dari daerah Ciruas dan sekitarnya. Para guru yang mengajar di sekolah ini adalah M. Warno dan M. Saidjam.

Sayangnya, tapak jejak sekolah ini tidak lagi dapat kita lihat pada saat ini, karena bekas bangunannya digusur ketika perluasan pembangunan pasar Ciruas pada tahun 1999. Padahal jika dilestarikan, bangunan cagar budaya ini dapat membantu kita memberikan informasi tentang sejarah pendidikan di Banten dan dapat dianggap sebagai bukti mendalamnya spirit di dada sebagian warga Banten untuk memerangi kebodohan dan mencapai kemajuan di bidang pendidikan (Soerosowan, 1930: 16).

Perhimpunan Tirtayasa (1930)
Perhimpunan Tirtayasa didirikan di Bandung pada tahun 1928. Sama seperti perhimpunan Boedi Banten, Tirtajasa bertujuan untuk meningkatkan kemajuan pendidikan dan ekonomi masyarakat Banten. Perhimponan Tirtajasa adalah peleburan dari perhimpunan warga Banten yang pernah dibentuk sebelumnya di Bandung, ‘Kabeningan Hate’ (Kesucian Jiwa).

Misi untuk membangun pendidikan, memerangi kebodohan dan memajukan perekonomian perhimpunan ini tercermin dalam satu tulisan salah seorang pengurusnya di surat kabar resmi perhimpunan ini, Tirtajasa:

‘Tirtajasa bermaksoed memperbaiki onderwijs [pendidikan] dan hendak mentjari daja oepaja soepaja kehidoepannja orang Banten dan orang Indonesia seoemoemnja dalam perkara sociaal maoepoen economienja tida djelek seperti sekarang, tjontonja, gitik rata pendapatanja orang Indonesia di poelo Djawa tjoema 8 sen sehari’ (Tirtajasa, 1930: 7).

Seruan untuk mencapai kemandirian ekonomi dan peningkatan pendidikan terus dikumandangkan oleh perhimpunan ini melalui terbitan bulanannya, Tirtajasa. Dalam rubrik yang ditulisnya, seorang pengurus perhimpunan ini menyeru:

‘... ajeuna mah oerang oedag heula kamadjoean djaman achir, toeh di korobong geura aradegkeun sakola H.I.S. keur anak oerang sangkan oelah katoker hiroepna di alam doenja, tah, di Pandeglang geura aroesahakeun Cooperatie bank noe merean modal ka si miskin, sangkan ekonomie oerang bisa mapakan. Toeh goenoeng Poelasari djeung goenoeng Karang, guera boekbak djarieun kebon teh atawa soklat atawa naon bae, di Serang arajakeun sakola dagang, di Menes oesahakeun sakola tani, modalna djarieun cooperatie bank, oelah ngan ngarenghik baramaen bae ka Goepernement, teu aja itoe maido ka Goepernement, ari teu dibere mamarahan, sagala tangkal kalapa dibaredilan, perejaji dibareungkeutan, didjarieun kawas kana bangkoeang bae. Atoeh batoer oge aja njawaan, ari rek diroeang kerepes mah, gegeroan geh ka batoerna, da deungeun-deungeun mah loba baladna, barang diabreg mah loba baladna, barang diabreg mah koe saradadoe noe noempak koeda...’ (Tirtajasa, Januari 1930: 5).

Perhimpunan ini memiliki beberapa cabang yang terdapat di Bandung, Jakarta dan Serang. Struktur Pengurus Pusat perhimpunan ini terdiri dari ketua (Sole Djajakoesoema), sekretaris (Ahen), bendahara dan anggota pengurus (Angkawidjaja, Padmalaksana, Md. Ali Soema Atmadja, Danoewangsa dan Moefradi). Pada struktur ini juga terdapat dua komisi, masing-masing komisi pengumpul dana penguburan (Achmad Zoehra dan Nitiwidjaja), dan komisi koperasi (Rd. Ismail, Wangsakoesoema, Soeptandar, Md. Noch, dan E. Bardi).

Pada tanggal 7 September 1930, perhimpunan ini mengadakan musyawarah besar yang dihadiri oleh pengurus dan undangan untuk memilih pengurus baru. Musyawarah ini berlangsung di gedung ‘Himpoenan Soedara’, Bandung. Musyawarah ini menetapkan Darnakoesoema sebagai ketua, Rafioedin sebagai sekretaris dan bendahara, Djajakoesoema, Irlan Sastradidjaja dan T. Asari Surijasoemirat sebagai komisaris.

Pada rapat pengurus yang dihadiri oleh semua anggota pengurus perhimpunan ini dan dihadiri oleh undangan, Tirtajasa berhasil menetapkan struktur pengurus baru pada tahun 1931, yang terdiri dari ketua (Dokter Ismail), administrateur dan asistennya (Wangsakoesoema, E. Bardi), pengawas (Soetandar dan Moh. Noh), komisaris (Padmalaksana), sekretaris (Ahen dan Angkawidjaja), dan para anggota (Sole Djajakoesoema, Nitiwidjaja, dan Mangkoerat).
Seperti Boedi Banten di Batavia, Perhimpunan Tirtajasa juga mendapatkan reaksi dan mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah terdapat anggapan bahwa perhimpunan ini didirikan untuk menghancurkan perhimpunan Pasoendan, atau perkumpulan orang Priangan (Tirtajasa, Januari 1930: 5).

Perkumpulan Tirtajasa berkembang dengan cepat. Perkumpulan ini membuka cabang di Jakarta dan Serang. Cabang Jakarta didirikan pada tanggal 12 April 1931. Pembentukan pengurus Cabang Jakarta dilakukan melalui rapat yang diselenggarakan di gedung sekolah Taman Siswa di Kebon Jeruk (Tirtajasa, Juni 1931: 1).

Cabang Serang didirikan pada tanggal 25 Desember 1930, melalui rapat umum yang bertempat di Gedung Gambar Idoep di Pasar Serang. Dalam rapat umum tersebut dibentuk susunan pengurus Tirtajasa cabang Serang, dimana Rafioedin Sadjadirdja sebagai ketua; Moehtadi, sebagai wakil ketua; Soeriakoesoema sebagai sekretaris dan bendahara, sementara anggota pengurus adalah: Perbatakoesoema, Nitiatmadja, Hassan dan Djakaloekman.
Concern perhimpunan ini terhadap pendidikan begitu tinggi. Hal ini terefleksi dalam fakta bahwa belum genap setahun didirikan. Perhimpunan Tirtajasa cabang Serang ini berhasil mendirikan sebuah sekolah H. I.S. berdasarkan Agama Islam.

Perkembangan perhimpunan ini yang demikian cepat serta diiringi concern yang mendalam terhadap pendidikan dilandasi oleh keprihatinan mendalam terhadap Banten. Ketua perhimpunan Tirtajasa cabang Jakarta, Irlan Sastradidjaja menerangkan bahwa ‘sekarang sudah lebih dari waktunya orang-orang Banten harus berorganisasi, merapatkan dirinya dengan saudara-saudara semua, dan menggunakan tenaganya untuk kemajuan umum. Yang dibilang tenaga, bukan tenaga kekerasan atawa senjata, akan tetapi tenaga otak, yang harus dikerjakan buat keperluan umum. Orang intelektual, artinya orang yang terpelajar, wajib menuntun dan memberi pengajaran kepada orang banyak, supaya lebih lebar pengetahuannya dan terbuka fikirannya. Kalau tidak begitu, bisa ada kejadian yang merugikan kepadanya, seperti yang sudah kejadian di tahun 1926’ (Tirtajasa, 1931: 3).

Surat Kabar Bulanan Tirtajasa

Perhimpunan Tirtajasa memiliki surat kabar resmi yang terbit setiap bulan. Bahasa yang dipakai dalam surat kabar ini mula-mula adalah bahasa sunda (Banten), kemudian diganti menjadi bahasa Melayu. Pemimpin redaksi surat kabar ini adalah Djajakoesoema. Surat kabar ini secara umum berisi laporan kegiatan perhimpunan Tirtajasa baik cabang Bandung, Jakarta maupun Serang.

Sama seperti surat kabar Soerosowan, Tirtajasa juga menyuarakan ide dan gagasan untuk memajukan pendidikan dan taraf hidup masyarakat Banten. Hal ini terlihat dalam hampir seluruh tulisan yang ada dalam surat kabar tersebut yang memiliki benang merah yang sama, yaitu mengajak kepada semua warga Banten untuk meningkatkan tingkat pendidikan dengan mendirikan sekolah dan meningkatkan taraf hidup dengan pendirian koperasi.

Concern surat kabar Tirtajasa yang sama dengan Soerosowan ini mendorong sekertaris perhimpunan Tirtajasa, Ahen, mengusulkan pada rapat pengurus perhimpunan Tirtajasa di Bandung pada tahun 1930 untuk menggabungkan kedua surat kabar ini. Namun usulan tersebut tidak disetujui karena alasan bahwa Soerosowan adalah surat kabar umum, sementara Tirtajasa adalah surat kabar resmi perhimpunan Tirtajasa (Tirtajasa, Jan. 1930: 6).
Pendirian Sekolah oleh Perhimpunan Tirtajasa Cabang Serang.

Semangat untuk memajukan pendidikan pada perhimpunan ini tidak sebatas retorika, namun mengejawantah dalam karya nyata. Pada tahun 1931, perhimpunan ini berhasil mendirikan sekolah Hollands Inlands School (HIS) partikulir pertama yang mereka sebut dengan HIS met de Koran di Kaloran Serang. Gedung sekolah ini disebut-sebut sebagai hibah dari seorang pedagang Tionghoa yang dermawan dari Serang. Peresmian sekolah ini dilaporkan sangat semarak dan meriah. Di samping dihadiri tidak hanya oleh para pengurus perhimpunan yang datang dari Bandung dan Jakarta tetapi juga oleh para undangan dan utusan dari berbagai organisasi yang ada ketika itu di Serang, seperti Shubban al-Watan, Perhimpunan Pasoendan, P.G.H.B, P.R.I., perhimpunan pegawai kantor pos, dll (Tirtajasa, Juli-Agustus 1931).*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kami menunggu partisipasi pemikiran anda.. silakan