Kami adalah

Senin, 18 Juli 2011

Exodus dan Ideologi Jambudwipa / India di Nusantara

Dalam prasasti Allahabad (345 M) India, “Kerajaan Samudragupta telah mengalahkan Raja Hastiwarman dari keluarga Calakayana dan mengalahkan Raja Wisnugopa dari keluarga Pallawa”. 270 saka (348 Masehi) seorang Maharsi dari keluarga Calakayana hijrah ke pulau-pulau sebelah selatan India bersama para pengikutnya yang terdiri dari penggiring, tentara, dan penduduknya melarikandiri dari musuhnya Samudragupta.

Sang Maharsi bernama Jayasingawarman, telah mendapatkan persetujuan dari Sang Prabu Darmawirya (Prabu Dewawarman VIII / Raja Salakanagara terakhir) untuk menempati suatu wilayah di dekat sungai Citarum. Sang Maharsi dan para pengikutnya membuka wilayah ini menjadi permukiman dan memberinya nama Tarumadesya / Desa Taruma. Perkembangan desa ini sangat pesat sehingga dalam beberapa tahun Taruma menjadi Nagara (kota yang memiliki daerah di sekitarnya yang bergantung pada kota tersebut sebagai barometer).Dari desa ini berdiri sebuah kerajaan besar di Nusantara yaitu kerajaan Tarumanagara. Dan Sang Maharsi Jayasingawarman menjadi raja pertama dengan nama abhiseka (penobatan) Jayasingawarman Gurudarampurusa. Kecakapannya dalam membangun wilyahnya ia menjadi perhatian bagi

Sang Prabu Dewawarman VIII sendiri berasal dari keluarga Pallawa, ia menjadi raja Salakanagara karena menikah dengan puteri sulung Sang Dewawarman VII. Sang Prabu Darmawirya mengangkat Sang Maharsi menjadi menantu dengan menikahkannya dengan puteri sulungnya yakni Iswari Tunggal Prtiwi Warmadewi atau Dewi Minawati. 285 Saka (368 Masehi) Sang Prabu Darmawirya mangkat sehingga Sang Maharsi pewaris tahta raja Salakanagara namun ia menolak dan memberikan kepada adik iparnya, ia fokus membangun Tarumanagara menjadi sebuah kerajaan yang besar sehingga Salakanagara sebagai kerajaan bawahannya Tarumanagara. Sang Maharsi mangkat pada 304 Saka (382 Masehi) dipusarakan di tepi kali Gomati

Ia digantikan oleh putera sulungnya dengan gelar Rajarsi Darmayawarman-guru, gelar ini diberikan karena selain pucuk pimpinan pemerintahan ia juga sebagai pimpinan guru ruhani hindu sebagai agama yang dianut oleh keluarga keraton. Namun penduduk desa banyak yang masih berpegangan dengan ajaran sebelumnya, Sang Rajarsi berusaha mengajarkan ajaran hindu kepada penghulu-penghulu desa sampai mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Namun tidak semua penduduk mau mengikuti ajaran Sang Rajarsi. Masyarakat dibagi menjadi 4 klas/kasta yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Dan berdasarkan kepatuhan terhadap Sang Rajarsi maka peduduk dibagi menjadi 3 golongan yaitu nista, madya, dan utama. Nista adalah golongan penduduk yang takut oleh ajaran Sang Rajarsi. Ia mangkat pada tahun 317 Saka (395 Masehi) dengan sebutan Sang Lumahing Chandrabhaga (yang dipusarakan di Chandrabhaga / Bekasi).

Selain pendiri Tarumanagara yang berasal dari keluarga Calakayana, Sang Dewawarman I pendiri Kerajaan Salakanagara yang berasal dari keluarga Pallawa ia bersahabat dengan penduduk pesisir Jawa Barat dan Nusa Api (Krakatau) sebagai duta Maharaja Pallawa. Adapun penghulu / penguasa Dewawarman berhasil bekerjasama dengan masyarakat lokal mengahalau para perampok dan bajak laut. Ia menikahkan puteri Aki Tirem yang bernama Pohaci Larasati, ketika Aki Tirem wafat ia menjadi pengganti penghulu dinobatkan dengan nama Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara sedangkan isterinya Pohaci Larasati menjadi permaisuri dengan nama Dewi Dwani Rahayu. Dan kerajaannya diberinama Salakanagara artinya Negeri Perak 52 Saka (130 Masehi), daerah kekuasaannya meliputi Jawa Barat bagian barat dan semua pulau yang berada sebelah barat Nusa Jawa termasuk selat Sunda. Pelabuhan pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala (Pulau Sanghyang), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan dijaga oleh pasukan Kerajaan Salakanagara sebab jalur merupakan gerbang laut. Seluruh kapal yang berlayar dari timur ke barat atau sebaliknya harus berhenti dan membayar upeti.

Kedatangan dua keluarga ini yaitu Pallawa dan Calakayana mewarnai dan mempengaruhi tatanan, mindset, ajaran, bahkan mungkin prilaku masyarakat lokal Nusantara minimal selama 2 abad proses transfer nilai-nilai tatanan pada masyarakat Nusantara..Dwipa Nusantara..

Kisah Salakanagara

Dicopy dari : http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2011_01_01_archive.html


Salakanagara didalam naskah Wangsakerta disebut-sebut sebagai Kerajaan awal di Indonesia. Naskah tersebut kemudian diuraikan dalam Sejarah Jawa Barat dan menghubungkan dengan sumber berita luar tentang Salakanagara.

Sumber berita yang sangat berpengaruh dan memberikan inspirasi bagi para peneliti adalah dari berita Cina, menyebut-nyebut raja Yeh-tiao bernama Tiao pien mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 132 M. Nama Yeh-tiao diduga Yawadwipa atau Yabadiu, sedangkan Tiao pien dipersamakan dengan Dewawarman.


Berita Cina bukan satu-satunya sumber rujukan, karena keberadaannya dianggap lebih serius setelah dihubungkan dengan tulisan Ptolomeus, ahli ilmu bumi mesir, dalam buku ‘Geographia’, ditulis + tahun 150 M. Ptolomeus menyebutkan diujung barat Iabadiou (Jawadwipa) terletak Argyre (kotaperak). Dari kedua berita ini kemudian para ahli menarik kesimpulan adanya sebuah kerajaan di pulau jawa bagian barat. Sekalipun dalam rentang perjalanan waktu, kesimpulan para penelitipun berubah-berubah, bahkan menganggap berada di daerah Thailand.

Didalam sejarah lokal, konon letak Salakanagara berada di sekitar Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Peninggalan yang dianggap berkaitkan dengan Salakanagara tersebar di Cihunjuran, Citaman, Gunung Pulosari, dan Ujung Kulon, bahkan diperkirakan memilki kaitan dengan wilayah sekitar Gunung Salak (Mungkin Caringin Kurung) dan Gunung Padang Cianjur. Tapi tokoh Betawi, Ridwan Saidi dalam bukunya “Babad Tanah Betawi” mengkalim Salakanagara terletak di Kali Tirem, Warakas, Tanjung Priuk, bahkan menyebut-nyebut Aki Tirem sebagai leluluh orang Betawi.


Kegamangan menentukan letak Salakanagara didalam peta Indonesia memang sangat wajar, mengingat tidak ada bukti fisik sejarah yang telah diakui dengan jelas dan bisa dijadikan patokan. Semacam prasasti, atau tanda-tanda lainnya. Dimungkinkan pula kegamangan ini karena tidak diperhitungkannya perubahan alam, seperti telah meletusnya Gunung Krakatau pada abad ke-17, dikenal dengan nama Nusa Api.

Menurut hemat saya, penelusuran sejarah Salakanagara sebaiknya tidak hanya terfokus pada masalah yang bersifat berita komunikasi tertulis yang memang sangat terbatas, namun jauh lebih bijak jika dipertimbangkan pula sumber dari cerita-cerita rakyat atau petutur sejarah lisan. Penelusuran dapat juga dilakukan melalui cara mencari asal-usul kerajaan sebelumnya, seperti mencari asal-usul kerajaan Tarumanagara. Konon Kabar kerajaan ini merupakan ‘tuturus’ dari Salakanagara.

Dalam cerita lisan Urang Sunda mengenal kisah Dewata Cengkar dan Abusaka mungkin abu saca). Yang satu dianggap asli Indonesia sedang yang lain dari tanah sebrang. Kisah ini lebih banyak menceritakan adanya pertemuan budaya, namun memang seolah-olah ada cerita yang kurang enak mengenai dominasi asing terhadap pribumi. Sebagai paneling-ngelingnya maka lahirlah penanggalan Caka Sunda. Sayang ceritanya hanya terbatas untuk komunitas tertentu. Sehingga agak sulit melacak “ka girangna”. Namun didalam sejarah Jawa Barat disebutkan pertanda adanya sentuhan budaya dari India.

Arti Salakanagara
Salakanagara dalam sejarah Sunda (Wangsakerta) disebut juga Rajatapura. Salaka diartikan perak sedangkan nagara sama dengan kota, sehingga Salakanagara banyak ditafsirkan sebagai Kotaperak atau Argyre (ptolomeus).

Konon kabar Salakanagara sampai dengan masa Aki Tirem baru bebentuk suatu komunitas masyarakat yang tinggal di Wilayah tersebut, bahkan namanya pun belum disebut Salakanagara, hanya dipimpin atau dikelola oleh penghulu, Salakanagara resmi menjadi kerajaan ketika masa Dewawarman I, menantu Aki Tirem yang menikahi putri Aki Tirem, bernama Pwahaci Larasati (urang sunda menyebut Dewi Pohaci).

Jauh-jauh hari sebelum berbentuk kerajaan, Salakanagara dikenal sebagai kota perdagangan dan persinggahan para Saudagar asia, seperti Arab, India dan China. Sehingga wajar jika keberadaan Salakanagara diberitakan oleh mereka.

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana
Dari : berbagai sumber

Muasal Aki Tirem

Dicopy dari : http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2011_01_01_archive.html


Aki Tirem sangat kuat untuk diperkenalkan sebagai cikal bakal Salakanagara. Dijamannya hanya berpredikat setingkat penghulu, bukan berpangkat raja.


Aki Tirem dalam cerita rakyat Pandeglang dikenal juga dengan landihan Aki Luhurmulya, atau Angling Dharma (Hindu) dan naman Wali Jangkung (Islam). Namun penyebutan tokoh dengan nama tersebut sering terdapat perbedaan, karena masyarakat ada juga yang menyebut nama Prabu Angling Dharma atau Wali Jangkung kepada Dewawarman. Bahkan Angling Dharma juga diakui berada di wilayah lain, bukan Salakanagara.


Kemasygulan masyakarat terhadap tokoh Aki Tirem menyebabkan bertambah gelar-gelar yang ia terima. Nama Angling Dharma misalnya, hemat saya lebih tepat jika dilarapkan kepada Dewawarman, mengingat Prabu Angling Dharma dalam ceritanya digambarkan sebagai Raja, bukan penghulu. Demikian pula sosok Wali Jangkung, mengingat para pendatang dari India lebih memiliki sosok yang lebih tinggi dari para penduduk yang datang sebelumnya atau pribumi.


Menurut Naskah Wangsakerta Aki Tirem adalah putera Ki Srengga, Ki Srengga Putera Nyai Sariti Warawiri, Nyai Sariti Warawiri puteri Sang Aki Bajulpakel, Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul dari Swarnabhumi bagian selatan kemudian berdiam di Jawa Barat sebelah Barat, Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer, Ki Pawang Sawer Putera Datuk Pawang Marga, Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang berdiam di swarnabhumi sebelah utara, Ki Bagang putera Datuk Waling yang berdiam di Pulau Hujung Mendini, Datuk Waling putera Datuk Banda, ia berdiam di dukuh tepi sungai, Datuk Banda putera Nesan, yang berasal dari Langkasungka. Sedangkan Nenek moyangnya berasal dari negeri Yawana sebelah barat.


Jika dipelajari lebih jauh lagi, naskah Wangsakerta yang ditulis pada tahun 1677 M menceritakan, bahwa pendatang dari Yawana dan Syangka yang termasuk kedalam kelompok manusia purba tengahan (janma purwwamadhya) tiba kira-kira tahun 1.600 sebelum saka. Kaum pendatang yang tiba di Pulau Jawa kira-kira antara 300 sampai dengan 100 tahun sebelum saka. Mereka telah memiliki ilmu yang tinggi (widyanipuna) dan telah melakukan perdagangan serbaneka barang. Para pendatang ini menyebar ke pulau-pulau Nusantara.


Wangaskerta menjelaskan pula, : oleh para mahakawi yang terlibat dalam penyusunan naskah Wangsakerta disebut jaman besi (wesiyuga), karena mereka dianggap telah mampu membuat berbagai macam barang dan senjata dari besi, yang lebih penting, mereka telah mengenal penggunaan emas dan perak.

Sebenarnya bukan hanya berdagang, tetapi merekapun merasuk kedesa-desa, seolah-olah semuanya milik mereka. Pribumi yang tidak mau menurut atau menghadangnya segera dikalahkan. Merekapun harus menjadi orang bawahan yang harus tunduk pada keinginan mereka. Antara tahun 100 sebelum saka sampai awal tahun Saka masih banyak kaum pendatang yang tiba dinusantara dari negeri-negeri sebelah timu India yang juga telah memiliki pengetahuan yang tinggi.


Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa pengambilan nama Salakanagara, atau Kotaperak, atau argyre memang wajar dan sangat terkait dengan jaman tersebut, yang kisahkan oleh para Mahakawi sebagai jaman besi (wesiyuga), jaman manusia di Nusantara telah mengenal penggunaan besi dan perak sebagai perkakas. Sedangkan kaum pendatang, seperti Dewawarman dari India datang ketempat tersebut dimungkinkan untuk berdagang dan mencari perak.

Raja-raja Salakanagara
Raja raja Salakanagara menggunakan nama Dewawarman sesuai nama raja pertamanya, yaitu Dewawarman I., menurut sejarah merupakan salah seorang Pangeran dari Palawi, India selatan, sebelum menjadi menantu aki ia adalah duta negaranya di Pulau Jawa. Dewawarman.

Pertemuan klan Aki Tirem dengan Dewawarman semula berazaskan pada kepentingan saling melindungi. Aki Tirem ketika itu sebagai penghulu diwilayah Salakanagara, sedangkan Dewawarman duta dari Palawa. Konon kabar menurut Naskah Wangsakerta, Dewawarman selalu melindungi penduduk Salakanagara dari rongrongan para perompak.

Kerjasama yang paling mengesankan bagi kedua belah pihak ketika Pasukan Dewawarman dengan Aki Tirem menregap rombongan perompak yang turun ke Salakanagara. Serta merta mereka dapat dilumpuhkan. Sejak saat itu pasukan Dewawarman sering turun ke Salakanagara, hingga suatu saat Dewawarman terpikat oleh putri Aki Tirem, kemudian menikah. Demikian juga seluruh pasukan dan kerluarganya, merekapun mengikuti jejak Dewawarman menikai putri-putri Salakanagara.

Ketika Aki Tirem sakit ia sudah berpesan agar jika suatu saat meninggal maka Dewawarman yang diharapkan menggantikan kedudukannya. Hingga tibalah Aki Tirem Wafat. Ada juga yang mengisahkan Akti Tirem ketika digantikan Dewawarman belum wafat, namun ia sengaja mengundurkan diri dari keramaian dunia dan pergi bertapa. Dewawarman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama Salakanagara, dengan gelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara, Sedangkan Dewi Pohaci diberi gelar Dwi Dwani Rahayu.

Penyerahan kekuasaan tersebut terjadi pada tahun 122 M. Dan pada saat itu diberlakukan pula penanggalan Sunda yang dikenal dengan sebutan Saka Sunda.

Dewawarman I berkuasa selama waktu 38 tahun sejak dinobatkan pada tahun 52 Saka atau 130 M. selama masa pemerintahan ia pun mengutus adiknya yang merangkap Senapati, bernama Bahadur Harigana Jayasakti untuk menjadi raja daerah di Mandala Ujung Kulon. Sedangkan adiknya yang lain, bernama Sweta Liman Sakti dijadikan raja daerah Tanjung Kidul dengan ibukotanya Agrabhintapura. Nama Agrabhinta dimungkinkan terkait dengan nama daerah berada didaerah Cianjur selatan, sekarang menjadi daerah perkebunan Agrabhinta, hanya karena sulit diakses, daerah tersebut seperti menjadi daerah tertinggal.

Klan Dewawarman menjadi raja Salakanagara secara turun menurun. Seperti Dewawarman II anak Dewawarman dari perkawinan dengan Pohaci Larasati. Dalam catatan sejarah, raja-raja Salakanagara yang menggunakan nawa Dewawarman sampai pada Dewawarman IX. Hanya saja setelah Dewawarman VIII, atau pada tahun 362 pusat pemerintahan dari Rajatapura dialihkan keTarumanagara. Sedangkan Salakanagara pada akhirnya menjadi raja bawahan Tarumanagara.

Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Salakanagara meliputi Banten, Jawa Barat bagian barat dan pulau-pulau didalam Wilayahnya. Sepanjang pantai Salakanagara dijaga Pasukan Dewawarman, termasuk pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala atau Puilau Sangiang, Nusa Api dan pesisir Sumatra Bagian selatan. Bertujuan untuk menjaga keamanan dari gangguan perampok. Sebagai imbalannya, para pelaut tersebut diwajibkan membayar upeti.

Selama kejayaan Salakanagara memang gangguan yang sangat serius datangnya dari para perompak. Hingga pernah kedatangan perompak Cina. Namun berkat keuletan Dewawarman dengan membuka hubungan diplomatik dengan Cina dan India pada akhirnya Salakanagara dapat hidup damai dan sentausa.

Peninggalan Salakanagara

Selain adanya perkiraan jejak peninggalan Salakanagara, seperti batu menhir,. Dolmen dan batu magnet yang terletak di daerah Banten, berdasarkan penelitian juga ditemukan bahwa penanggalan sunda atau Kala Sunda dinyatakan ada sejak jaman Aki Tirem. Penanggalan tersebut kemudian dinamakan Caka Sunda. Perhitungan Kala Saka mendasarkan pada Matahari 365 hari) dan Bulan (354 hari). Masing-masing tahun mengenal taun pendek dan panjang.


Cikal Bakal TarumanagaraKonon kabar pada tahun 270 Saka atau 348 Jayasinghawarman, seorang Maharesi dari Salankayana India, ia mengungsi karena daerahnya ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya. Daerah pengungsuiannya terletak di Wilayah dekat Citarum. Daerah tersebut masih termasuk wilayah kekuasaan Dewawarman VIII. Maharesi tersebut kemudian menjadi menantu Dewawarman VIII.


Setelah berselang lama, banyak penduduk berdatangan dan menetap disana. Lama kelamaan daerah tersebut menjadi Nagara (kota). Kemudian Jayasingawarman pun memperbesar kotanya hingga menjadi sebuah kerajaan yang diberi nama Tarumanagara.


Jayasingawarman selain menjadikan wilayah Salakanagara menjadi sebuah kerajaan iapun kemudian menjadi rajadirajaguru yang memerintah kerajaan dan bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa.

Cag Heula. (***).

Mudah mudahan tulisan ini ada yang dapat melakukan koreksi. Harur Nuhun.

Eksotisme Salakanagara

Hasil Penelitian Kerajaan Salakanagara

O l e h :

Dani Prayudhi, Maslim Lesmana, Nurhaedi,

Renny .Y. Adystiani, Vinchentia RH


SALAKANAGARA

Pandeglang menyuguhkan banyak sejarah yang sangat menarik untuk di teliti. Salah satunya sejarah Kerajaan Salakanagara. Cihunjuran, Citaman, Pulosari dan Ujung Kulon merupakan tempat-tempat yang menyimpan banyak situs tentang Salakanagara. Di Cihunjuran misalnya, di tengah hamparan pesawahan terdapat beberapa batu-batu purba serta kolam-kolam pemandian purba tepatnya zaman Megalitikum.


Bukan hanya batu-batuan dan kolam-kolam purba yang menambah menariknya Cihunjuran, pemakaman Aki Tirem Luhur Mulia atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Angling Dharma dalam nama Hindu dan Wali Jangkung dalam nama Islam yang ukurannya tidak seperti pemakaman pada umumnya semakin menambah eksotisme sejarah di tempat tersebut.

Batu Dolmen, tumpukan menhir yang dikumpulkan oleh warga setempat, Batu Dakon dan Batu Peta yang sampai saat ini belum ada satu orang pun yang dapat menerjemahkan isi peta tersebut semakin menambah eksotisme nilai sejarah yang ada di situs Cihunjuran.

Ditengah rasa kekaguman dan keingintahuan terhadap eksotisme sejarah peninggalan Salakanagara rasa keingintahuan itu pun terpuaskan dengan adanya keterangan dari salah satu narasumber sekaligus tokoh masyarakat setempat. Bapak Entong begitulah panggilan akrab bapak yang diperkirakan umurnya diatas 60 tahun itu. Berikut beberapa keterangan dari beliau.

1. Kerajaan Salakanagara Ada Sejak Abad Ke 1 (satu)

Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua yang ada di Nusantara. Raja pertama Kerajaan tersebut adalah Dewawarman. Dewawarman merupakan duta dari Kerajaan India yang diutus ke Nusantara (Pulau Jawa), kemudian Dewawarman dinikahkan oleh Aki Tirem Luhur Mulia dengan Putrinya yang bernama Larasati Sri Pohaci, maka setelah Dewawarman menjadi menantu dari Aki Tirem Luhur Mulia diangkatlah Dewawarman menjadi Raja I (pertama) yang memikul tampuk kekuasaan Kerajaan Salakanagara. Saat menjadi Raja Dewawarman I dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Kerajaan Salakanagara beribukota di Rajatapura yang sampai tahun 363 menjadi pusat Pemerintahaan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I-VIII).

2. Nama lain Aki Tirem Luhur Mulia Aki Tirem Luhur Mulia yang merupakan mertua dari penguasa pertama kerajaan Salakanagara. Dewawarman lebih dikenal oleh masyarakat setempat (Cihunjuran) dengan nama Prabu Angling Dharma dan Wali Jangkung.

Nama inilah yang kemudian menjadi sebuah pertanyaan apakah Angling Dharma/Wali Jangkung hanya sebuah cerita rakyat biasa tanpa fakta ataukah nama Angling Dharma/Wali Jangkung memang benar-benar nama lain dari Aki Tirem Luhur Mulia? Tapi kalau ini memang benar adanya, lalu samakah Angling Dharma yang ada di Jawa Tengah dengan Angling Dharma versi masyarakat Cihunjuran?

Ada satu lagi hal yang menarik yang harus dipertanyakan. Kalau memang Angling Dharma itu nama lain dari Aki Tirem Luhur Mulia, lalu bagaimana dengan Wali Jangkung. Bukankah sebutan Wali hanya untuk orang-orang yang memeluk agama Islam? Lalu apa sebenarnya agama yang dianut oleh Aki Tirem Luhur Mulia? Islam kah atau Hindu? Apakah Aki Tirem Luhur Mulia (nama asli) beragama Islam atau Hindu? Tapi dari ritual yang dijalankan oleh masyarakat setempat dapat diartikan bahwa Aki Tirem Luhur Mulia telah di-Islam-kan oleh penduduk setempat.

Hal tersebut bisa terlihat dari ritual-ritual, yang dijalankan oleh masyarakat setempat terhadap situs kerajaan Salakanagara diantaranya: ziarah yang dilakukan di makam Aki Tirem Luhur Mulia yang menggunakan tata cara Islam mulai dari berwudhu dan bacaan-bacaan Ziarah.

3. Bukti-bukti Sejarah Peninggalan Salakanagara:

a.) Menhir Cihunjuran; berupa Menhir sebanyak tiga buah terletak di sebuah mata air, yang pertama terletak di wilayah Desa Cikoneng. Menhir kedua terletak di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari. Menhir ketiga terletak di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang.

Tanpa memberikan presisi dimensi dan lokasi administratif, tetapi dalam peta tampak berada di lereng sebelah barat laut gunung Pulosari, tidak jauh dari kampung Cilentung, Kecamatan Saketi. Batu tersebut menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis dan Batu Tulis di Bogor. Tradisi setempat menghubungkan batu ini sebagai tempat Maulana Hasanuddin menyabung ayam dengan Pucuk Umum.

b.) Dolmen; terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berbentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm, disebut Batu Ranjang. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus dengan permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh empat buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm. Di tanah sekitarnya dan di bagian bawah batu ada ruang kosong. Di bawahnya terdapat fondasi dan batu kali yang menjaga agar tiang penyangga tidak terbenam ke dalam tanah. Dolmen ditemukan tanpa unsur megalitik lain, kecuali dua buah batu berlubang yang terletak di sebelah timurnya.

c.) Batu Magnit; terletak di puncak Gunung Pulosari, pada lokasi puncak Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Yaitu sebuah batu yang cukup unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas, meskipun ditempatkan di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut.

d.) Batu Dakon; Terletak di Kecamatan Mandalawangi, tepatnya di situs Cihunjuran. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya dan berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan

e.) Air Terjun Curug Putri; terletak di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, air terjun ini dahulunya merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas. Di lokasi tersebut, terdapat aneka macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.

f.) Pemandian Prabu Angling Dharma; terletak di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, pemandian ini dulunya digunakan oleh Prabu Angling Dharma atau Aki Tirem atau Wali Jangkung.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua yang ada di nusantara. Hal itu dapat dilihat dari situs-situs peninggalan kerajaan tersebut. Kerajaan Salakanagara terdapat di Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang, dan situs-situs peninggalannya tersebar di Cihunjuran, Citaman

Sejarah Terjadinya Bumi Nusantara (BUMI SHUNDAWARDATIKA)

dicopy dari : http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2011_01_01_archive.html

Bermula dari Nagari Kahyangan dibawah Sunan Ambu. Abad ini tahun 104 Candra Kala, Zaman Megalitikum. Kemudian, Sunan Ambu mencipta seorang Prabu yang bernama Prabu Lutung Kasarung dan Budak Manjor.


Di bumi sudah ada Negara Pasir Batangan disekitar Gunung Bundar berdekatan di kaki Gunung Salak, Bogor. Hal ini dalam pantun kuno disebutkan ada 7 putri nan cantik rupawan.

1. Nyi Mas Purba Larang
2. Nyi Mas Purba Endah
3. Nyi Mas Purba Leuwih Ningsih
4. Nyi Mas Purba Kencana
5. Nyi Mas Purba Manik Maya
6. Nyi Mas Purba Leutik
7. Nyi Mas Purbasari

Negara Pasir Batangan memiliki seorang Adipati yang bernama Lembu Halang yang sakti mandraguna dan dipimpin oleh Rajanya bernama Prabu Purba Kencana dengan permaisurinya Nyi Mas Larasarkati.

Terjadilah perkawinan antara Prabu Indra Prahasta dengan Nyi Mas Purba Larang dan Prabu Lutung Kasarung dengan Nyi Mas Purbasari. Prabu Lutung Kasarung diasuh oleh Aki Kolot Penyumpit dan Nini Kolot Penyumpit.

Dari perkawinan Prabu Indra Prahasta dengan Nyi Mas Purba Larang, melahirkan:

1. Uyut Tirem
2. Aki Raga Mulya

Dari perkawinan antara Prabu Lutung Kasarung dan Nyi Mas Purbasari, melahirkan:

1. Prabu Bathara Gung Binathara Kusuma Adjar Padangi
2. Nyi Mas Ratu Banjaransari

Kemudian Prabu Gung Binathara Kusuma Padangi membuat situs menhir sebagai tempat persembahan kepada leluhur Nagari Kahyangan yang terletak di Salaka Dhomas, Bogor. Kemudian Prabu Gung Binathara membuat istana kerajaan dari batu yang terletak di Gunung Padangi antara Cianjur dan Sukabumi, yang disebut Batu Menhir Megalitikum dengan nama kerajaannya adalah Medang Kamulan I.

Prabu Bathara Gung Binathara mempunyai putra dua:

1. Prabu Angling Dharma Mandalawangi diperintahkan untuk membuat situs di Gunung Pulosari, Desa Mandalawangi Banten (Medang Kamulan II).
2. Nyi Mas Nila Sastra Ayu Jendrat ditugaskan untuk membuat kitab para Dewa Nila Sastra Ayu Jendrat (Kitab aturan dewata yang memuat Pituduh, Pitutur, Pibekaleun).

Tahun 78 M, Prabu Gung Binathara menciptakan Aji Purwa Wisesa sejumlah 18 huruf yang berbunyi:

HA NA CA RA KA DA TA SA WA LA PA JA YA NYA MA GA BA NGA

Pada tahun 130 M, Prabu Angling Dharma membuat wilayah kekuasaan dan keraton sampai ke pedalaman Banten (Lebak) dan Ujung Kulon. Di kemudian hari terkenal dengan nama HYANG SIRA atau EYANG JANGKUNG; disebut Eyang Jangkung karena memapas gunung Pulosari yang menghalangi penglihatannya dimana kuncup Pulosari dibuang ke laut sehingga menjadi gunung Krakatau.

Pada tahun 170 M, Ratu Gung Binathara Kusuma Adjar Padangi mencipta batu sebesar rumah (jika diukur sebesar rumah tipe 200) yang berlokasi di desa Cibulan, Cisarua yang saat ini dikenal dengan sebutan Maqom (petilasan) Wali Cipta Mangun Negara dan Nyi Mas Cipta Rasa.

Antara Salaka Dhomas dengan Situs Magalitikum Gunung Padang di Cianjur dengan batu menhir Megalitikum di Pulosari dan dengan Batu di Wali Cipta Mangun Negara, semuanya memiliki satu kesatuan dan kesamaan masa.

*Bahan ini dikutip dari Kitab Nila Sastra Ayu Jendrat yang mulai rusak dan ditemukan di pematang sawah di Ujung Kulon

Kisah ini nantinya berlanjut kepada cikal bakal Raja- Raja dan Ratu-Ratu di Bumi Nusantara yang kami bagi menjadi tiga fase:

1. Fase Pertama (Tahun 1 M – 700 M) yang disebut Galuh I
2. Fase Kedua (Tahun 701 M – 1400 M) yang disebut Galuh II
3. Fase Ketiga (1401 M – 2100 M) yang disebut Galuh III

Semoga bermanfaat.

H. Muhammad Said Kusuma

Kerajaan Salakanagara

Dicopy dari : http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2011_01_01_archive.html

Penulis: Jacinta F. Rini

Kesejarahan Indonesia mempunyai banyak sisi yang belum di eksplorasi, termasuk penelusuran berbagai kerajaan yang pernah ada di nusantara. Selama ini, proses mencari jejak kerajaan-kerajaan di nusantara banyak menghasilkan informasi baik yang lama maupun yang baru; bahkan tidak jarang menimbulkan pertanyaan yang menggugah keinginan untuk menggali serta menemukan bukti historis yang bisa melengkapi mata rantai kesejarahan nusantara.

Kerajaan Salaka Nagara merupakan salah satu mata rantai kerajaan di nusantara. Penelusuran jejak Salaka Nagara pernah dilakukan berbagai pihak dan dari berbagai perspektif – seperti yang dapat di baca pada artikel ini. Keberadaan kerajaan ini pernah tercatat di tahun 150 oleh seorang ahli ilmu bumi Yunani, Claudius Ptolemaeus dalam bukunya Geographike Hypergesis. Ptolemaeus menyebutnya sebagai Argyre, atau perak yang terletak di ujung barat Pulau Iabadious (Dalam mitologi Roma dan Yunani, Argyre dikatakan mythical island of silver ). Nama Iabadiou disamakan dengan nama dalam bahasa sansekerta, Yawadwipa, yang artinya Pulau Jelai atau Pulau Jawa.

Hingga kini, terbatasnya informasi mengenai Salaka Nagara menimbulkan berbagai pertanyaan yang hanya bisa di jawab dengan terus melakukan penggalian sejarah, mencari kaitan-kaitan historis yang akhirnya bisa semakin memperjelas latar belakang kerajaan Salaka Nagara ini.


LOKASI

Kerajaan ini berada di wilayah Pandeglang yang kini bagian dari Propinsi Banten yang dulunya merupakan kerajaan yang sangat besar bernama Kerajaan Gilingaya, atau Salaka Nagara. Menurut naskah “Pustaka Rayja-rayja I Bhumi Nusantara”, Salaka Nagara di dirikan tahun 52 Saka, atau 130/131 Masehi (2). Lokasi di perkirakan ada di Teluk Lada, kota Pandeglang, kota yang terkenal hasil logamnya. Di kabupaten Lebak dan Pandeglang serta Serang memang sejak dulu terkenal dengan tambang logam mulia. Sementara wilayah Cikotok dan sekitarnya sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi wilayah pertambangan emas dan bahan galian lain seperti perak. Di sana juga di temukan bahan galian logam seperti galena (biji timah hitam /Pb), serta berbagai bahan non-logam seperti andesit, basalt, tras, zeolit, feldspar, bentonit, pasir kuarsa, batu sempur, batu mulia dan batubara, serta minyak bumi dan gas di daerah Ujung Kulon. Tidak mengherankan jika sejak jaman dulu Salaka Nagara sudah di kenal sebagai Negeri Perak karena hasil buminya.

Perjalanan sejarah kerajaan Salaka Nagara memiliki riwayat perjalanan yang cukup panjang. Ada sumber yang mengatakan bahwa Salaka Nagara, atau nama lainnya Gilingaya sudah ada sejak jaman Kala Brawa (1). Nama Salaka Nagara juga muncul pada penelitian sejarah kerajaan awal nusantara (2), dan di sebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara. (2)

KERAJAAN GILINGAYA atau SALAKA NAGARA

Pendiri Kerajaan Gilingaya adalah Sang Prabu Budawaka yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Ismaya. Setelah masanya berakhir, Sang Prabu Budawaka moksa di Gunung Karang di candi yang berada diatas Gunung Karang di daerah Watu Lawang.

Setelah itu dilanjutkan oleh Sang Prabu Bramakadi yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara

Brama. Setelah lengser keprabon, sang prabu menjadi pertapa di puncak Gunung Krakatau dan digantikan oleh putranya yang bernama Sang Prabu Dewaesa yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Bayu. Prabu Dewaesa adalah raja terakhir dari Kerajaan Gilingaya ketika keraton tersebut masih menjadi pusat kerajaan. Karena sesudah sang prabu dan ayahandanya – Prabu Bramakadi moksha, terjadi goncangan alam yang sangat besar, sehingga mayoritas bumi terendam air. Air baru surut pada masa akhir Kerajaan Medang Galungan di Kuningan saat di perintah oleh Prabu Satmata. Kerajaan Gilingaya yang menguasai jagad pada jaman Kala Brawa di jaman besar Kali Tirtha, di kenal juga dengan nama Salakanagri atau Salaka Nagara. Setelah surut dari kerjaan induk, sampai di jaman masa surutnya Majapahit, tetap bernama Gilingaya atau Salaka Nagara, tetapi statusnya sudah menjadi Kadipaten. (1)


Perjalanan Salaka Nagara dari masa ke masa selanjutnya mengalami pasang surut sejalan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Mengingat bahwa kerajaan ini termasuk yang tertua di nusantara, maka hingga kini belum banyak penemuan yang bisa mengungkapkan secara lebih jelas lagi tentang Salaka Nagara. Namun demikian di tahun 1677, Pangeran Wangsakerta – salah satu anggota keluarga Keraton Cirebon bersama-sama dengan tim nya, menyusun naskah Pustaka Rajya Rajya Bhumi Nusantara yang menjelaskan sejarah kepulauan nusantara, Pulau Jawa dan Tatar Sunda. Dalam salah satu naskah itu lah nama Salaka Nagara muncul dan disebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara.

CIKAL BAKAL TARUMANEGARA

Dalam naskah Wangsakerta, diceritakan bahwa Salaka Nagara merupakan sebuah wilayah di Teluk Lada. Masyarakat Salaka Nagara di masa itu memiliki sistem religi Pitarapuja, atau pemujaan roh leluhur dan Aki Tirem adalah tokoh pemimpin masyarakatnya. Di katakana pula, Dewawarman – yang kelak menjadi Raja Salaka Nagara, adalah seorang duta keliling, pedagang dan perantau dari India yang tiba di Teluk Lada hingga menetap dengan Dewi Pwahaci Larasati, putri Aki Tirem, sang penguasa setempat.


Hubungan antara Aki Tirem dengan Demawarman sudah terjalin jauh sebelum Demawaman menetap di Teluk Lada. Mereka berdua telah bekerja sama mengatasi perompak yang mengganggu wilayah sekitar perairan Salaka Nagara dan sekitarnya. Aki Tirem mempunyai putri yang kemudian di nikahkan dengan Demawaman. Kelak Aki Tirem menyerahkan kekuasaan pada Demawarman.

Kerajaan Salaka Nagara baru berdiri setelah meninggalnya Aki Tirem, yakni pada kisaran tahun 130 Masehi. Demawarman mendirikan kerajaan Salaka Nagara dengan ibu kota Rajatapura dan menjadi Raja Salaka Nagara pertama, bergelar Prabu Dharmaloka Demawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Wilayah-wilayah di sekitarnya menjadi daerah kekuasaan Raja Dermawarman, termasuk kerajaan Agnynusa (Negeri Api) di Pulau Krakatau. Jaman sekarang ini wilayah kuno Salaka Nagara mencakup Banten, Jawa Barat bagian barat, pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala atau Pulau Sangiang dan pesisir Sumatera bagian selatan. Demawarman membuka hubungan diplomatic dengan Cina dan India; dan ketika kerajaan itu menggalang kerja sama mengatasi gangguan perompak, termasuk para perompak dari Cina.

Raja Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun, dan pada kisaran tahun 168 masehi di gantikan puteranya Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Senapati Bahadur harigana Jayasakti, adik Prabu Dewawarman I menjadi raja di daerah Mandala Ujung Kulon. Sedangkan Sweta Liman Sakti, adiknya yang lain dijadikan raja di daerah Cianjur selatan

Tahun 363 M (akhir Kerajaan Salaka Nagara)

Kerajaan Salaka Nagara hanya sampai + tahun 363 dengan Prabu Dharmawirya sebagai Prabu Dewawarman VIII / terakhir karena Salaka Nagara sudah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Tarumanegara. Kehidupan masyarakat Salaka Nagara sangat harmonis, makmur dan sentosa, perekonomian berjalan baik.

Prabu Darmawirya Dewawarman VIII, mempunyai menantu Jayasinghawarman, seorang maharesi dari Calankayana di India. Jayasanghawarman mengungsi ke Nusantara setelah daerahnya di serang Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya. Setelah Jayasinghawarman mendirikan Kerajaan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralhi dari Rajatapura ke Tarumanagara, dan setelah itu Salaka Nagara statusnya berubah menjadi Kerajaan Daerah. Hingga saat ini, belum di temukan prasasti atau bukti sejarah yang bisa membuktikan keberadaan Kerajaan Salaka Nagara sebelum era Tarumanagara ini. Oleh karena itu, hingga kini banyak pihak masih meragukan dan memperdebatkan soal Kerajaan Salaka Nagara sebagai cikal bakal Tarumanagara. (2)

Peninggalan Salaka Nagara

Posisi Kerajaan Gilingaya kira-kira terdapat di kecamatan Mandalawangi yang di kelilingi oleh 4 (empat) gunung, yakni Gunung Pulosari (stratovolcano), Gunung Karang (stratovolvano) dan Gunung Aseupan, serta Gunung Parakasak (volcano). Oleh karena itu beberapa peninggalan dapat di jumpai lokasi sekitar bekas kerajaan Salaka Nagara. Beberapa literatur penelitian ( (Yoseph Iskandar , 1997, Sejarah Jawa Barat), Ayat Rohaedi,2005,Sundakala : Cuplikan Sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panita Wangsakerta” Cirebon) mengungkap adanya bukti-bukti peninggalan kerajaan, tersebar di sekitar Gunung Pulosari dan Pulau Panaitan.

Berdasarkan naskah Pustaka Raja Raja I Bhumi Nusantara, situs Cihunjuran adalah salah satu bukti peninggalan kerajaan Salaka Nagara. Ada pula batu menhir dan dolmen yang oleh masyarakat setempat di sebut Batu Alami. Ada pula batu berlubang, pada jaman itu digunakan sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.


Situs Batu Goong Citaman, Batu goong, peninggalan megalitik Salaka Nagara bentuknya menhir yang di kelilingi batu-batu berbentuk gamelan atau gong dan batu pelinggih. Situs ini terletak di atas bukit tidak jauh dari pemandian Citaman. (3)

Konon, situs citaman dulunya adalah situs tempat Sang Prabu Budawaka menerima wahyu sehingga dibangun menjadi Taman Punakawan, karena di situ tempat beliau bertemu untuk pertama kalinya dengan Ki Lurah Semar yang waktu itu bernama Ki Lurah Lengser. (1)




Situs Batu Ranjang, salah satu peninggalan yang masih terletak di kawasan Pulosari. Bentuknya rata di bagian atas sehingga disebut batu ranjang. Batu yang di perkirakan dari jaman logam, diperkuat dengan 4 tiang penyangga yang berukir (3). Konon kabarnya, dahulu Situs Batu Ranjang merupakan situs dari pesanggrahan Sang Prabu Dewaesa saat memanggil Pangeran Makukuhan dan menobatkan Pangeran Makukuhan menjadi Mahaprabu dan terkenal dengan gelar Sang Mahaprabu Kano yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Indra yang lalu memindahkan pusat pemerintahannya ke Gunung Mahendra. (1)





Situs Batu Tumbung merupakan sebuah batu besar yang terdapat banyak guratan-guratan.




Guratan pada batu menggambarkan tentang gunung yang meletus pada masa itu, jumlah guratan menandakan sejumlah itu pula gunung-gunung di pulau Jawa yang meletus secara bersamaan di sekitar masa pergantian jaman dari Kala Brawa ke Kala Tirtha.

Asal usul Batu Tumbung

Pada saat itu Pangeran Makukuhan putra Sang Prabu Dewaesa yang menjadi Adipati di Purwacarita (Purwacarita di daerah Magetan di lereng Gunung Mahendra – red sekarang Gunung Lawu) dipanggil datang ke pesanggrahan yang ada di Situs Batu Ranjang. Saat itu Prabu Dewaesa berkeinginan untuk lengser keprabon dan menghendaki Pangeran Makukuhan yang akan menggantikan beliau menjadi Raja. Tapi Pangeran Makukuhan tidak mau menerima karena kawatir dengan banyaknya Kadipaten yang akan memberontak ketika dia menjadi Mahaprabu.

Maka Pangeran Makukuhan mencari cara agar prabu Dewaesa tidak lengser keprabon dengan

mengatakan “Dumateng Arcapada menika pukulun mboya wonten bagaskara kembar”. Pernyataan itu membuat marah Prabu Dewaesa dan mengatakan kalau begitu yang kamu inginkan maka Prabu

Dewaesa dan Mpu Bramakadi akan moksa dan menghancurkan semua Kadipaten yang berpotensi mbalelo. Maka diperintahkanlah untuk membuat perahu dan memperbesar istana Balekambang untuk menyelamatkan rakyat. Tertegun dan sedih mendapat jawaban tersebut maka Pangeran Makukuhan meminta rakyat membuat apa yang diinginkan Prabu Dewaesa. Kemudian setelah semua selesai Prabu Dewaesa dan Mpu Bramakadi moksa di Gunung Krakatau dibarengi dengan datangnya meteor yang menghantam Bumi dan meletusnya sejumlah gunung serta naiknya air laut sampai sepertiga Gunung Karang. Air laut baru surut pada saat penobatan Prabu Satmata di jaman Kerajaan Medang Galungan.

Gelar dari Pangeran Makukuhan adalah Sang Mahaprabu Kano. Nama Kano, mempunyai arti “perahu” itu melekat karena pada saat moksanya ayahanda dan kakek dari Pangeran Makukuhan, siti hinggil kraton dipindah sementara ke dalam sebuah perahu besar yang dibangun di Istana Balekambang Gilingaya.

Peristiwa moksanya Sang Prabu Dewaesa dan Mpu Bramakadi, mengakibatkan terpisahnya daratan Sumatera dengan daratan Jawa, akibat meletusnya gunung-gunung juga gunung yang berada di kutub selatan sehingga es mencair dan air laut naik dan menenggelamkan hampir sebagian besar daratan di bumi pada saat itu. (1)

Arca Ki Lurah Lengser dan Batu Lumpang

Di kediaman Bapak Nurdin yang berjarak sekitar 2km dari Situs Batu Tumbung, terdapat arca Ki Lurah Lengser dan Batu Lumpang serta ada patung lingga yang dipakai sebagai ganjal rumah. (1)

Daftar pustaka :

(1) Agung Bimo Sutejo & Timmy Hartadi (Tim Laku Becik), Kraton Gilingaya : sebuah ekspedisi. Januari 2009

(2) Ayat Rohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005

(3) Team Fisip IKOM A1 NR-Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Megalitikum di Banten Selatan Sekitar Gunung Pulosari, 2008